#30DAYSWRITINGCHALLENGE DAY 3 - KENANG(AN)

Kenangan di 30 Days Writing Challenge

Hari ke tiga #30DAYSWRITINGCHALLENGE.

Hari ini hari Sabtu alias malam minggu. Waktu saya nulis ini, hujan lagi deras di luar sana. Aroma tanah basah adalah salah satu aroma yang paling saya suka. Rasanya seperti candu. Tahu gak apa yang orang romantisasi soal hujan? Kenangan yang berlarian sederas air yang berjatuhan.

DUH! 

Sebenernya otak manusia itu hebat banget gak sih? Bisa menyimpan banyak sekali ingatan. Coba deh bayangin sejak kita lahir dan mempu mengingat sudah berapa banyak yang otak kita ini simpan. Buanyaaaakkkkk banget kan. Bahkan mungkin beberapa kenangan sudah dilupakan.

(Sudah baca: Ameliasepta!)

Saat bayi, saya tentu saja tidak bisa mengingat apapun. Saya hanya bisa mendengar cerita itu dari Mama. Saya kemudian memiliki kenangan saya sendiri sejak saya masuk ke TK Besar. Ingatan lainnya hanya sekelebat lewat, namun satu hal tidak akan terlupa adalah saya memulai hari pertama sekolah seorang diri. Memeluk rasa kebingungan dan iri hati melihat anak lain didampingi orang tua mereka.

Selanjutnya kenangan yang mati-matian ingin saya lupakan adalah tiga tahun di masa putih-biru. Saya tidak terlahir sempurna apalagi dari keluarga kaya dan hak itu ternyata tidak bisa diterima oleh beberapa orang yang juga siswa tentunya. Saya bulan-bulanan menjadi samsak hinaan mereka. Sungguh saya ingin cepat lulus saja. Tahunan setelah saya lulus dari seragam putih-biru pun ternyata saya masih takut berjumpa mereka, iya karena kenangan itu tertancap sangat dalam di kepala saya.

Kenangan tentang cinta pertama juga menyenangkan. Ah iya, saya gak menganggap pacar pertama itu cinta pertama saya yah huahaha. Intinya yang saya anggap cinta pertama saya juga adalah orang yang akhirnya paling membuat saya terluka. Patah hingga lebam biru.

Saat saya menulis ini, lamaaa sekali. Karena setiap paragraf melemparkan saya pada linimasa yang pernah terjadi di hidup saya. Ada yang dapat saya tatap dengan senyum malu-malu. Ada yang saya ingat dengan torehan tangis pilu. Ada kenangan yang jika saja saya mampu kembali, ingin saya peluk "saya di masa itu", dan berkata: tidak apa-apa, kamu berharga.

Pernah baca novel Hujan karangan Tere Liye? Di masa depan ada sebuah mesin waktu yang mampu menghapus ingatan menyakitkan. Kenangan itu dihapus agar semua orang mampu bahagia dan menjalani hidupnya. Kepikir gak kalau mesin itu ada di masa sekarang. Tertarik gak buat nyobain?

Kadang saya ingin mengulang masa lalu. Memilih jalan yang tidak saya pilih sebelumnya. Memulai kembali agar tidak ada penyesalan di masa ini. Menulis cerita baru yang saya harap jauh lebih baik dari cerita yang punya sekarang.

(Baca juga: Hal-hal yang membuat saya bahagia)

Tapi kemudian saya ragu. Jika tidak ada saya yang dulu, jika tidak ada kenangan-kenangan yang telah saya miliki itu, apa saya bisa menjadi saya yang sekarang. Seorang perempuan yang saya yakin hatinya setegar batu karang. Perempuan yang walaupun hatinya pernah hancur, masih mampu mencintai seseorang dengan cara terbaiknya. Perempuan yang berjanji untuk terus bahagia walau dunianya sedang tidak baik-baik saja. Perempuan yang setiap kali melihat bayangan dirinya sendiri mampu berkata, kamu amat sangat hebat.

Jadi kalau ada mesin di novel itu, saya memilih untuk tidak menghapus kenangan yang saya punya. Tidak akan pernah. Karena semenyakitkan apapun kenangan itu, mereka adalah pondasi tangga untuk saya melangkah maju. Meyakini diri saya untuk mampu terbang ke angkasa dengan hati yang terus membumi.

Karena kenangan memang selayaknya untuk dikenang, cukup.


*maap nulisnya agak melow huhu efek hujan :(

Tidak ada komentar