My Head Full of Dream

Februari 15, 2019

Review Film "ANTOLOGI RASA"

by , in

"UNTUK YANG TELAH MENEMUKAN NAMUN TIDAK BISA MEMILIKI"



Sebaris kalimat di atas ialah yang menjadi tagline dari film Antologi Rasa yang tayang bertepatan di hari Kasih Sayang -14 Februari 2019- kemarin. Film ini adalah adaptasi novel best seller karya salah satu penulis favorit gue, Ika Natassa.

Antologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti "kumpulan karya tulis pilihan dari seseorang atau beberapa pengarang. Berarti Antologi Rasa adalah kumpulan perasaan dari beberapa orang. Gue akan review film dari dua sudut pandang, sebagai pembaca (lama) dan penonton film, sebisa mungkin menghindari spoiler. Tapi kalau dikit-dikit gapapalah yeeee~

Sebagai seorang penonton,

Di awal film, kita akan diperkenalkan langsung dengan ke tiga tokoh utama yang menjadi poros cerita. Keara Tedjasukmana yang diperankan oleh Carissa Perusset, sungguhlah Keara banget. Cantik, semampai, memiliki mata indah, pekerjaan yang bagus, sempurna pokoknya. Harris Risjad yang diambil alih oleh Herjunot Ali, gue yakini, adalah kesayangan seluruh penonton. Tengil, kocak, playboy, jahil, raja dugem, tapi tunduk di hadapan perempuan yang bahkan tidak pernah melihatnya lebih dari seorang sahabat. Dan yang terakhir, Ruly Walantaga yang diperankan oleh Refal Hady. Seorang lelaki baik-baik, alim, dan juga mencintai seorang perempuan yang tidak mungkin dimilikinya. Cinta mereka rumit amat dah.

30 menit film berjalan gue merasa film ini masih seru. Namun di menit-menit setelahnya entah kenapa gue jadi sedikit bosan. Pemaparan plot yang tidak padat buat gue ngantuk dan gemes sendiri. Tapi itu juga ada di beberapa bagian kok. Alur ceritanya juga menurut gue agak "maksa". Kaya pengen cepet-cepet konfliknya selesai, padahal belum bener-bener klimaks. Akting Carissa juga buat gue sedikit kecewa. Ceritanyakan Keara ini tuh sakit banget cintanya bertepuk sebelah tangan mulu, tapi dia GABISA NAGIS yalordddd. Gue yang nonton aja mewek-mewek. Lah dia sesedih itu tapi air matanya gak keluar tapi sesenggukan haftt~

Yang menyelamatkan adalah tentu saja  the one and only Herjunot Ali. Karakternya sebagai Harris mampu membuat hati gue bergetar eeaaaa. Manis banget dan pengen bawa pulang ajah rasanya. Perasaannya yang teramat sangat dalam ke Keara sampai di hati gue. Cintanya yang dipendamnya dalam diam, cukup dengan membuat Keara bahagia, bener-bener terlihat dari matanya memandang Keara. Peran Dinda sebagai sahabat Keara juga di sini menurut gue tidak menunjukan arti yang signifikan. Kaya yahhhh cuma biar ada ajah gitu peran sahabat cewenya (mungkin buat yang gak baca bukunya akan kebingungan siapa cewek yang hanya terlihat di dua scene itu).

Sebagai seorang pembaca,

Gue kecewa-bahagia #LAH!
Maksudnya gimana yah. Bahagianya tentu karena seluruh pemeran disajikan dengan sempurna. Mereka adalah Harris, Keara, dan Ruly yang selama ini gue -dan mungkin pembaca lain- imajinasikan dalam kepala kami. Karena gue udah baca novelnya, gue udah tau dong yah alur ceritanya mau ke mana dan ngapain aja. Gue justru sangat menantikan adegan penting seperti saat Harris sedang galau-galaunya, Ruly juga terjebak dalam kehaluannya mencintai orang yang tidak mencintainya, juga Keara yang kebingungan sebenarnya hatinya mau apa. Disitulah kecewa gue sebagai pembaca mulai muncul. Seluruh plot yang ditampilkan di film berjalan "patah-patah". Tiba-tiba begini. Tiba-tiba begitu. Lalu tanpa angin dan hujan mereka ciuman. 
PENGEN AJA GITU CIUM CIUM huff~ *kan pengen juga gitu wkwk
Gue tidak merasakan cinta yang sebenar-benarnya dari tiap-tiap tokoh. Syukurlah beberapa dialog sama persis dengan yang ada di novel. Manis-manisnya kebawa ampe di film.
Namun ada satu karakter lagi yang membuat Keara tahu hatinya menuju ke mana, tapi tidak ditampilkan di film. Siapa dia? Kalian baca ae novelnya wk. Yah gue tau sih jawabannya pasti seperti jawaban film adaptasi lainnya "tidak semua yang ada di novel bisa dituangkan ke dalam layar lebar dan memiliki banyak pertimbangan". Begitulahhhhhhhh.

But over all,
Pesan cinta yang disampaikan dalam Antologi Rasa benar-benar membuat hati gue hangat. Walau kekurangan sedikit di sana sini, Antologi Rasa mengemas film adaptasi novel yang harus diapresiasi. Film ini layak ditonton untuk kalian yang sedang tidak tahu ke mana hati kalian menuju. Atau kalian yang sedang lelah berjuang namun tidak mengerti bagaimana berkata "cukup" kepada diri sendiri. Antologi Rasa adalah perasaan tiga orang yang akhirnya, masing-masing menemukan muaranya. Dan soundtrack film ini JUARA sih. Geisha dan D'masiv sukses buat lirik yang baperrrrrr parah :3

Rating: 7.5/10



Pesan seorang Harris Risjad:
"Kalau dia buat lo ketawa, itu artinya lo suka sama dia. Tapi kalau dia buat lo nangis, itu artinya lo cinta sama dia"