My Head Full of Dream

Juli 25, 2019

KAWAH IJEN & (FAILED) BLUE FIRE

by , in
Namanya juga hidup.
Kadang di atas kadang di bawah.
Kadang berhasil kadang gagal.
Dan inilah cerita kegagalan gue yang sakittttt banget pokoknya huhuu :(

Kawah Ijen

GA ADA YANG MAU PUK-PUK'IN ADEK GITU?
HUHU :((

Yodahhh daripada banyak drama, dengarkanlah kisahkuuuu~


Surabaya mengantarkan kami bertiga ke Stasiun Gubeng di sela-sela hujan panasnya. Dengan carrier di punggung kami bertiga sudah terlihat seperti wanita tangguh. Ada raut wajah gembira, bahagia, dan penasaran tentang perjalanan yang selanjutkan akan kami laksanakan. Pada tiket yang kami pegang tertera jam keberangkatan yang sebentar lagi tiba. Belum-belum udah haru aja dong ninggalin Surabaya. 

Siap melangkahkan kaki lagi

"Gue bakal balik lagi, janji" bisik gue pada Surabaya.

Kereta tiba dan kami segera naik untuk mencari nomor kursi di mana kami akan menghabiskan kurang lebih enam jam perjalanan.  Di kursi masing-masing kami langsung mencari posisi paling weenakkkkkk agar bisa tidur. Karena jadwal perjalanan yang padat, kami benar-benar harus memanfaatkan waktu istirahat sebaik-baiknya. Kereta pun melaju pelan menuju kota Banyuwangi.


Tidur sis? Huahah

Enam jam berlalu begitu saja. Tibalah kami di Stasiun Karang Asem. Buat gue pribadi, ada rasa haru sih. Kota yang selama ini hanya santer terdengar dan dilihat melalui buku IPS di jaman sekolah, kini dapat dijejaki secara nyata. :”)

Stasiun Karangasem, Banyuwangi


Pasti udah pada nebak dong yah mau ngapain ke Banyuwangi.

YAK BENAR!
Kami akan melihat salah satu keajaiban dunia, BLUE FIRE di atas Kawah Ijen WO-HOOOO!!

Kami sudah memesan home stay yang kami temukan di instagram. Walau hanya beberapa jam perlu banget buat kami merenggangkan pinggang setelah berjam-jam di kereta. Homestay dan guide trip yang kami pesan ternyata berlokasi tepat di depan Stasiun Karang Asem. Hanya perlu berjalan sekitar lima menit saja. Kami langsung diarahkan menuju homestay. Beruntungnya hanya kami yang menyewa kamar pada hari itu, jadi full dapet serumah. Rejeki anak baik.

Homestay Rumah Singgal Banyuwangi
Saat di homestay kami berkenalan dengan 2 perempuan dari Jogjakarta yang ternyata juga akan naik ke Ijen. Namun mereka tidak menyewa trip melainkan menyewa motor biar bisa lebih puas eksplore. Oh iya ada satu juga anak laki-laki yang berkenalan dengan kami. Dia solo traveler. Inilah kenapa traveling itu menyenangkan. Kita akan banyak menjumpai orang-orang baru dari berbagai daerah. Nambah teman dan nambah pengalaman.

Namun sesuai dengan bulan-bulan transisi musim, Banyuwangi mulai diserbu hujan deras. Kami mulai berpandangan dengan harap cemas. Apa bisa kami naik ke atas dengan cuaca yang baik? Semoga saja. Kami akan dijemput oleh mobil trip pukul setengah 1 malam. Jadi kami punya waktu kurang lebih 3 jam untuk berbenah dan bersiap. Hujan di luar sudah mulai berubah menjadi rintik-rintik saja.

Menilai cuaca yang dingin, kami juga mempersiapkan baju dan jaket tebal. Setengah 1 tepat kami dijemput sebuah minibus. Di dalamnya ternyata ada beberapa orang yang juga ikut trip ini. Jadi makin ramai deh perjalanan ini.

Sebelum naik ke Kawah Ijen
Perjalanan ke kaki Kawah Ijen ternyata memakan waktu hampir 1 jam perjalanan. Udara dingin mulai masuk di sela-sela jendela. Cuaca belum menunjukkan tanda-tanda cerah, duh! Sesampainya di kaki Kawah Ijen, kami mendapat beberapa peralatan “perang” untuk naik ke atas, seperti: masker khusus untuk menahan bau belerang, snack dan air mineral. Jam setengah 2 perjalanan kami dimulai.
Medan yang licin, hujan yang tidak berhenti turun, kami berjalan dalam gelap. Langkah kaki kami pelan sekali. Selain karena satu tim yang berjalan semuanya perempuan, berjalan di tengah udara malam lumayan menghabiskan oksigen.

Ada kejadian agak mengesalkan nih selama perjalanan menuju ke atas. Hujan gak berenti turun walau Cuma gerimis tapi kan lumayan buat kepala dan baju basah. 20 menit berjalan melihat hujan tak kunjung reda, kami berinisiatif untuk memakai jas hujan. Namun guide kami pada saat itu mengatakan tidak perlu karena hujan sebentar lagi reda. Makin lama berjalan hujan gak juga reda, kami menawarkan untuk memakai jas hujan kembali. Namun lagi-lagi dia mengatakan tidak perlu, yowiss manut wae.

Kurang lebih 1 jam berjalan kami sampai seperti di warung/ pos mungkin yah untuk beristirahat sejenak. Dengan kondisi badan yang sudah basah kami melihat semua orang memakai jas hujan. Lalu kami memutuskan PAKE AJALAH UDAH JAS UJANNYA DARIPADA MAKIN PARAH! Guidenya Cuma cengar cengir doang pas liat kami pake jas ujan, gue jorokin juga lu ke kawah!

Pakai jas hujan juga akhirnya 
Kami yang awalnya bertiga ditambah 2 perempuan lagi menjadi satu tim perjalanan, namun di tengah perjalanan salah satu dari mereka tidak kuat melanjutkan perjalanan. Alhasil dia menyewa ojek online yang ada di sana.

Ah iya yang menarik dari Kawah Ijen ada “ojek online” dong. Gak bener-bener online. Namun cara kerjanya mirip. Warga sekitar menyediakan semacam gerobak yang bisa dinaiki dan ditaring oleh 3 orang. Karena menggunakan tenaga manual itulah mengapa harga “ojek online” menjadi sedikit lebih mahal.

Kira-kira begini nih penampakan "ojek online" Ijen
Sumber : sini
Pukul setengah lima kami sampai tepat di bibir kawah. Di bawah sana banyak sekali lampu senter yang saling menyinari, mereka adalah orang-orang yang turun untuk melihat langsung “api biru”. Kami bertanya pada guide mengapa tidak turun ke bawah sana. Namun dia menjawab, blue fire tidak keluar karena hujan, apalagi ke bawah sana jauh akan buang waktu, dia berjanji membawa kami ke tempat yang bagus di atas sana.

KESEL DONG KITA!
Jauh-jauh ke sini kan mau lihat fenomena api biru itu. Udah jauh, basah-basahan, capek, kedinginan terus kita ga dapet apa yang mau dilihat tuh rasanya kaya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. SAKIT KAK :((

Melihat kami yang kesal guide tercinta itu sempat mencoba melucu yang menurut gue ga lucu. Dia mengambil salah satu batu dan membakarnya. “NIH LIHAT API BIRU” Udah liat ini aja. Pengen gue bakar rasanya
*emosi

Pagi semakin dingin, mungkin akibat baju yang basah, gue semakin mengigil. Kalau ga gerak bisa bisa kena hipotermia nih. Segera kami mengajak guide itu untuk membuktikan janjinya akan membawa kami ke tempat yang bagus. Yah minimal kekecewaan tidak bisa melihat api biru secara langsung sedikit terobati. Menjelang jam 6 pagi, hujan perlahan berhenti, dan kami tiba tepat di bibir Kawah Ijen. Matahari perlahan-lahan muncul walau tersembunyi di balik awan mendung. Dan terlihatlah pemandangan yang membuat mata terpukau.

Ijen di pagi yang sendu


KAWAH IJEN CANTIK BANGET YA TUHAN!



Inget banget hari ini Senin pagi tanggal 4 Maret 2019. Kapan lagi hari Senin jadi seindah dan semenyenagkan ini. BAHAGIA :3


Yang paling depan guide kami yang ngeselin tapi baik sih huahah
 


Semakin siang kami puas mengambil foto di setiap sudut Kawah Ijen. Pengennya sih yah lama-lama di sini, namun karena bau belerang yang mulai naik dan mengingat jadwal kereta selanjutnya, kami harus memaksa hati ini untuk meninggalkan tempat secantik Ijen.





Walau perjalanan ini dimulai dengan banyak keselnya. Banyak betenya apalagi sampai tidak sempat melihat api biru, gue tetap bahagia dan bersyukur punya kesempatan melihat indahnya Kawah Ijen. Mungkin harus balik lagi ke sini buat si api biru, gimana? Balik jangan?

Waktu turun, udah ga berbentuk lagi muka dan rambut :))


Estimasi perjalanan:
-          Tiket kereta api:
               Stasiun Gubeng – Stasiun Karang Asem = Rp 88.000
-          Trip & Homestay                                                  = Rp 200.000
Instagram : @rumahsinggahbwi
Include : Transportasi, uang masuk, lokal guide, masker, senter, air mineral dan jas hujan                                                                                                                            


Juli 23, 2019

Surabaya - Kota Pahlawan yang Mempesona

by , in



Surabaya, Surabaya, oh Surabaya
kota kenangan, kota kenangan
takkan terlupa

Di sanalah, di sanalah, di Surabaya

pertama lah, tuk yang pertama
kami berjumpa

Kuteringat masa yang telah lalu

s'ribu insan, s'ribu hari
berpadu satu

Surabaya, di tahun empat lima

kami berjuang, kami berjuang
bertaruh nyawa



---------



Sekian purnama akhirnya tulisan ini kelar juga gaisss!

Lagu karya  Titik Hamzah yang udah gue dengerin sejak kecil terngiang-ngiang tatkala roda pesawat hampir menyentuh Bandara Juanda. Ada rasa debar dan haru karena akhirnya gue bisa menginjakkan kaki di Kota Pahlawan ini.

Ah yah, perjalanan kali ini sudah direncanakan sejak bulan Januari kemarin. Memboyong kedua sahabat, kami memilih melakukan perjalanan di bulan Maret tahun ini yang bisa dianggap semacam perayaan tepat satu tahun kami bertiga pertama kali naik gunung di Merapi Sumatera Barat bulan Maret tahun 2018.

Udah banyak sih sebenernya temen-temen yang ngingetin, memilih naik gunung di bulan Maret adalah hal yang beresiko karena curah hujan sedang tinggi dan cuaca yang tidak mendukung. Tapi kami lagi-lagi bermain dadu dengan semesta, biar dia yang menentukan perjalanan kami akan bagaimana.

Tanggal 2 Maret 2019 kami sampai di Bandara Juanda pukul 5 sore dan langsung memesan go-car menuju penginapan. Karena hanya akan berada di Surabaya kurang dari 24 jam, kami ingin memanfaatkan baik-baik waktu yang sedikit ini. Sebelumnya kami telah memesan hotel yang dekat dengan stasiun agar memudahkan perjalanan selanjutnya.

My Studio Hotel



Dua mas-mas ganteng menyambut kami ketika sampai di sini. Proses check in yang seharusnya sebentar memakan waktu lumayan lama. Mana perut udah keroncongan karena belum makan dari siang. Gue mulai gak sabaran. Akhirnya  setelah memakan waktu hampir 20 menit, kami pun diantarkan ke tempat tidur ( EH GIMANA WKWKW). Jadi hotel ini tuh bentukannya kaya kapsul gitu. Kami mendapat tempat di lantai 2 dan semua carrier kami dimasukkan ke dalam loker yang terletak di bawah tempat tidur. Lumayan kesel nih di sini, karena ketidakhati-hatian masnya, rain cover carrier gue robek. HIH!

Ada keanehan saat kami bertiga naik ke kasur. Karena tempat ini terlalu sempit untuk bertiga. Kami langsung berdiskusi sambil kembali melihat pesanan yang kami buat di traveloka. Dan kami memang memesan tempat untuk 3 orang, namun yang diberikan adalah tempat untuk 2 orang. Karena gak mungkin tidur sempit-sempitan, kami memutuskan untuk complain aja ke mas-mas yang ada di bawah tadi.

Drama pun dimulai. Keluhan kami ditanggapi seorang ibu-ibu yang gue rasa adalah bosnya mas-mas tadi. Dan dia mengatakan bahwa tempat tidur yang mereka berikan itu memang hanya untuk dua orang dan jika kami ingin menambah 1 orang lagi, kami diharuskan membayar. Ya jelas aja kami gak mau. Pemesanan sudah kami lakukan jauh-jauh hari dengan keterangan yang jelas dan udah dibayar juga, masa kami disuruh bayar lagi. GAK CUKUP NANTI UANG JAJAN DEDEK BUUU :(

Lumayan lama berdiskusi dengan ibu itu, akhirnya beliau memutuskan untuk konfirmasi ke pihak Traveloka. Gak tau deh siapa yang salah intinya adalah kami tidak mau menambah biaya dari biaya yang sudah kami bayarkan sebelumnya. Udah capek, pesanan hotel gak sesuai, lapar pula, rasanya emosi gampang banget naiknya. Karena menunggu si ibu lama, kami mengatakan akan pergi makan dulu nanti gimana-gimananya kabarin aja saat kami pulang. Ibu itu setuju.

Pada akhirnya kami mendapat 1 tambahan tempat tidur kompensasi dari pihak hotel. Karena kesalahpahaman kan mereka yang mulai, jadi mereka juga yang harus mengakhiri *dangdut amat*


Kamar kompensasi dari pihak hotel

Taman Bungkul



Drama hotel tadi tidak mengurangi keinginan kami untuk menjajal kota Surabaya di malam hari. Kebingungan memilih tempat makan adalah hal yang menjadi masalah awal saat kami keluar dari hotel. Kami bertiga benar-benar buta dengan kota ini. Akhirnya google lah yang menyelamatkan kami. Kami memutuskan untuk kulineran di sekitar Taman Bungkul. Dari lokasi hotel ke Taman bungkul kami memilih naik ojek online maluv :3

Karena malam minggu, keramaian kota Surabaya tampak di jalanan. Hujan rintik yang turun tidak mempengaruhi semangat untuk menjelajah Kota Pahlawan ini. Thanks to mbah google kami memilih makan di “Rawon Kalkulator”. Aneh yah namanya dan tempatnya penuhhhhhhh!

Abis nyicipin rawonnya gue paham banget sih kenapa tempat ini penuh, enaaaaaaa rek!
Dan saat membayar makanan gue lebih paham lagi kenapa tempat ini dinamakan “Rawon Kalkulator”, secara mas kasirnya ngitung cepet banget kaya kalkulator padahal mah komat kamit doang, terheran-heran adek!



Suasana di Rawon Kalkulator
Rawon daging
Perut kenyang hatipun riang. Kami memutuskan mengitari Taman Bungkul yang penuh dengan muda-mudi yang sedang merayakan malam minggu. Tak lama kemudian hujan kembali mengguyur Surabaya, kami menunggu hujan reda sambil memutuskan akan melangkahkan kaki ke mana lagi. Pilihan pun jatuh ke Taman Pelangi. Namanya yang unik dan melihat foto dari instagram yang cakep, kami langsung memesan gojek ke sana. Lokasinya lumayan dekat karena kami hanya membayar ongkos Rp 5.000.


Malam mingguan di Taman Bungkul

Taman Pelangi



Taman pelangi tak beda jauh dengan taman biasa lainnya. Bedanya ada dinding estetik di sana dan dihiasi dengan lampu beraneka ragam warna. Di bawah bangunan estetik itu ada kolam yang memantulkan cahaya menjadi lebih ciamik. Jam operasional Taman Pelangi hanya sampai jam 23.00, jadi kami gak bisa berlama lama di sini apalagi hujan kembali turun. Kami segera memesan gojek dan kembali ke hotel.



Warna-warni lampu di Taman Pelangi

Jembatan Suramadu


Jembatan Suramadu

Masih ada beberapa waktu lagi sebelum kami harus berangkat menuju kota selanjutnya. Kami memutuskan menghabiskan pagi untuk melihat jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau Madura yakni Jembatan Suramadu. Ternyata megahnya ga beda jauh sama Jembatan Barelang yang dimiliki Kepulauan Riau. Karena hanya mempunya waktu sangat singkat, saat kaki sudah menjejak di Madura, kami pun langsung memutuskan kembali ke Surabaya.


Di depan kebun binatang Surabaya


Bukti pernah menjejakkan kaki di Surabaya :3

Tugu Pahlawan




Gak afdol rasanya jika sudah sampai di kota Surabaya namun tidak melihat Tugu Pahlawan. Meskipun hujan kaki kami tetap melangkah menuju salah satu ikon kota Surabaya ini. Dan satu bukti lagi di mata gue betapa bangganya menjadi anak Indonesia. Melihat sejarah adalah momentum untuk kembali mengingat perjuangan para pahlawan.


Walau hujan ku tak menyerah 



Beberapa jam di Surabaya membuat gue jatuh cinta pada kota ini. Masih banyak tempat yang ingin gue datangi. Gimana kalau balik lagi ke sana? 


Tunggu akuh yah kota Pahlawan tercintaaa~

Estimasi biaya:

- Tiket pesawat Batam - Surabaya = Rp 1.418.000 (via Traveloka)
- Penginapan                                  = Rp 100.000
- Bandara ke Penginapan  + tol     = Rp 106.000 / 3 orang
- Gojek ke Taman Bungkul            = Rp  5.000
- Soto rawon                                   = Rp 22.000
- Es teh manis                                 = Rp  5.000
- Gojek ke Taman Pelangi              = Rp  5.000
- Gojek balik ke penginapan          = Rp 10.000
- Gocar ke Jembatan Suramadu     = Rp 47.000 / 3 orang
- Gocar ke Kebun Binatan Surabaya = Rp 99.000 / 3 orang
- Makan siang di sekitar kebun binatang = Rp 12.000
- Gocar ke Tugu Pahlawan             = Rp 13.000 / 3 orang
- Masuk ke Tugu Pahlawan              = Rp 5.000
- Grab balik ke hotel                         = Rp 20.000 / 3 orang
- Grab ke stasiun                               = Rp 20.000/ 3 orang