My Head Full of Dream

Agustus 31, 2018

City Tour - Road To Opening Ceremony Asian Games 2018

by , in
Setelah tadi malam menjadi "orang penting", hari ini kami -Duta Asian Games 2018- akan melaksanakan serangkaian kegiatan city tour di Jakarta. Dari jadwal yang kelihatan padat ini, perjalanan kami akan dimulai dari Kota Tua pagi-pagi sekali *KATANYA*.

Blush on  masih on point
Namun...

Tentu saja kita sebagai manusia hanya bisa berencana walaupun pada akhirnya kenyataan tidak pernah berjalan sesuai dengan apa yang kita mau. Kami yang di"ingatkan" untuk dapat bangun dan sudah berkumpul di jam tujuh pagi. Kami semua, tim writingthon khususnya, tentu saja adalah peserta yang baik dan budiman. Kami sudah duduk manis di bus jam setengah tujuh. Dan yang akhirnya bus berangkat pukul SETENGAH SEMBILAN YHAAAAAAAAAAAA. Gapapa akutu gapapaah!

Setelah tertidur di bus, kami tiba di Kota Tua Jakarta. Kami hanya mempunyai sedikit waktu di sini karena harus mengejar jadwal makan siang di Ancol. Guide kami tidak berhenti menjelaskan semua hal yang ada di Kota Tua. Tapi karena panas banget, gue ga fokus dengerinnya. Gue fokus mencari AC di setiap ruangan yang ada di museum wkwkw :))



Tim kuat di jemur
Gak cukup diberi harapan palsu soal keberangkatan bus tadi pagi, menjelang penjemputan dari Kota Tua kami juga tentu saja diberikan harapan palsu lagi. Kami sempat "dijemur" saat sedang menunggu bus. Anggota kelompok yang terpisah-pisah harus dipastikan lengkap dulu baru bisa masuk ke bus. Pokoknya udahlah cuaca panas, hati panas, dompet panas kebanyakan jajan karena udah lewat jam makan siang, panas semuanya. Saat bus tiba, kamipun gembira, karena waktu makan siang akhirnya tiba. 

Kami makan siang di Gubug Makan Mang Engking, Taman Impian Jaya Ancol. Saat tiba di sana, beruntung sudah tersedia makanan di atas meja lalu kami makan dengan lahap. Tanpa sisa sob! Selepas makan siang acara selanjutnya adalah kami akan dinner dengan tema BBQ di Pantai Segara Ancol. Pasukan merah tadi berganti baju dan menjadi pasukan putih.

Tempat makan siang
Untuk sampai di Pantai Segara kami hanya berjalan kaki sekitar 15 menit. Dan langsung disambut dengan dekor outdoor yang berwarna-warni. Acara semakin semarak karena kehadiran Yosi, Project Pop.


"Ku bukan superstar kaya dan terkenal, ku bukan saudagar yang punya banyak kapal, ku bukan priyayi, ku hanyalah orang yang ingin dicintai" - Project Pop.

Karena selfie adalah koentji!

Pantai Segara di malam hari
Ternyata kehadiran Yosi di sini untuk melatih yel-yel yang akan kami gemakan saat Pembukan Asian Games 2018 keesokan harinya. Latihan yel-yel dipenuhi canda dan tawa karena pemimpin yel-yel yang dipilih dari masing-masing pemenang. Hari beranjak malam dan mulailah mengalun musik dari DJ Pixy. Yang semakin seru adalah teman-teman dari Dance Competition maju ke depan panggung sambil meliuk-liukkan badannya mengikuti irama musik. Seruuuuuu!
Latihan yel-yel ceritanya :))
Di sini juga turut hadir kembali Ibu Rosita Niken Widiastuti yang kembali menyambut hangat kehadiran kami semua. Hadir juga Prof. DR. Henry Subiakto, selaku Staff Ahli Menkominfo RI (beliau juga merupakan Guru Besar Fisip Universitas Airlangga) yang terlibat langsung dalam pembuatan UU ITE. Pak Henry menyampaikan materi singkat tentang "Tantangan Kebhinekaan  di Era Digital". Beliau menyematkan pesan bahwa sebagai anak muda kreatif kami hendaknya menjaga warisan bangsa sebaik-baiknya. Sebarkan konten positif. Bijaklah dalam menyampaikan informasi apapun dan himbau masyarakat untuk menghalau berita hoax. Dengan pembawaannya yang santai ada satu kalimat beliau yang membekas di ingatan,

"Media informasi itu seperti narkoba. Lingkungan itu pengaruhnya besar. Sekali saja sudah menebar hoax, kumpulnya juga sama orang-orang yang sukanya menyebarkan hoax, hancur reputasi. Ingat, cermati beritanya, buktikan kebenarannya, tegur penyebarnya jika berita tidak benar, kita harus sangat bijak di era tekhnologi yang semakin canggih."

Pak Henry
Materi yang disampaikan emang terlihat seperti kuliah umum. Tapi karena pembawaan beliau yang santai, sesekali tertawa, juga berwibawa membuat kami terbawa suasana dan tidak bosan. Acara dilanjutkan dengan stand up comedy dari Raim Laode. Celotehannya benar-benar membuat kami tidak berhenti tertawa. Tidak lama kemudian kami juga dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang disediakan.

Raim Laode, stand up comedian
Sejak acara dimulai, MC beberapa kali menyinggung bahwa akan ada "bintang tamu" kejutan untuk kami semua. Gue  yang sedari tadi memperhatikan ada alat musik full band yang tertutup kain di panggung menebak pasti kejutannya itu band. Cuma temen-temen gak ada yang percaya dan mengira itu adalah peralatan home band biasa.

Dan taukah kalian siapa bintang tamu kejutan itu?

D' M A S I V!

Oke.
Baik.
Tarik nafas.
Jangan pingsan.
Santai.
Hembuskan nafas.

Huahahahhaah :))
Mungkin kalian akan mengira gue sangatlah lebay. Ga gaiss ga gitu...
Gue beritahu sebuah rahasia kecil. Gue adalah masivers. Jadi masivers itu adalah nama fans band D'masiv. Gue bahkan pernah ikut komunitasnya dulu di Batam waktu jaman gue lagi muda belia. Dan karena komunitas itu gue bisa nonton band ini dari dekat. Bahkan bisa menyambangi mereka di hotel kira-kira tahun 2012.

DAN SEKARANG MEREKA DEPAN GUE DONG!

Terimakasih Bang Firman untuk fotonya yang warbiyasak!
Kalau tahun 2012 kami terpisahkan eeakkkk antara panggung yang tinggi. Kali ini mereka di depan gue. Dengan sangat jelas dan nyata. Agak-agak syok nih, kaya mengenang kembali masa muda waktu nonton mereka yang buat gue ama mantan gue putus waktu itu wkwkwkwkkw. Sekeliling gue kan emang anak muda (BUKAN BERARTI GUE TUA) yah jadi mereka emang histeris berteriak sambil tidak berhenti mereka. Padahal mah juga mungkin tau lagunya cuma satu dua doang hih! *mulai nyinyir kakaknya mon map.

Gue yang emang pengen dengerin lagu mereka doang sama sekali ga ada megang handphone. Niat hati ini emang menikmati aja mereka yang di depan mata gue ini. Sambil sesekali dengan noraknya gue meneriakkan salam lima jari, yang membuat Rian selalu melihat gue. Yess berhasil caper! :))

Tapi di tengah-tengah nyanyian mereka yang tidak pernah putus, gue terpikir untuk pamer ama temen-temen gue. Netizen jaman sekarang kan kalo ga ada bukti suka ga percayaan, jadi gue harus ngambil minimal satu video nih sebagai bukti ada D'masiv di depan mata. Gue keluarin handphone dan mulai merekam. Lalu taukah kalian, saat mulai merekam, Rian yang emang dari tadi sibuk narsis di hp yang mengarah ke dia, tiba-tiba melihat ke hp gue dong. Dan gak berhenti sampai di situ.

Dia perlahan turun tangga dan memeluk gue.

O M G !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Terdengar teriakan "anjirrr menang banyak tu cewek!" dari belakang, kiri, juga kanan gue. Bahkan ampe didorong-dorong tuh, SIRIQUE KALIAN SEMUA SOBAT!

Maafkan hamba yang seperti remaja kelakuannya :))

Ada lagi nih rejeki yang gue dapatkan huahahahah. Jadi ada saat di mana Rian turun panggung yang langsung diserbu dari segala penjuru. Gue yang tepat di depan dia tentu saja langsung mepet dengan posisi yang berhadapan. Kondisi itu bertahan hampir 5 menit. Gile ya vokalis band uda keringetan masih wangi aja. Yang memisahkan kami berdua hanya tangan yang gue taro di depan dada, gak bisa ngapa-ngapain juga gue kejepit sama orang-orang norak wkwkwk.

D'masiv menutup malam kali ini dengan indah (APALAGI GUE YANG UDAH DIPELUK VOKALISNYA). Segala kelelahan sepanjang hari sedikit terobati dengan kehadiran D'masiv. Dan kami harus segera pulang ke hotel, untuk bersiap menyambut hari besar untuk Indonesia sebagai tuan Rumah Asian Games 2018.


Agustus 30, 2018

Hempaskan Toxic Demi Hidup Lebih Asik

by , in
Indonesia hanya memiliki 2 musim. Musim hujan dan musim kemarau. Jadi bulan Juli dan Agustus adalah bulan dengan musim peralihan alias gak jelas cuacanya. Kadang di pagi hari bisa diawali dengan matahari yang bersinar terik. Namun siang harinya bisa diterpa hujan dengan angin yang kencang. Jika sedang tidak fit, maka perubahan cuaca yang ekstrem ini dapat membuat krisis terhadap badan. 

Sepulangnya dari perjalanan ke Kerinci kemarin, entah karena kondisi badan yang menurun ditambah lagi dengan cuaca yang tidak pasti kaya perlakuan dia saya akhirnya kembali menyambangi rumah sakit. Padahal terakhir kali masuk rumah sakit itu kira-kira 3 tahun yang lalu. Sedihhhh :(

nginap di rumah sakit :(
Saya adalah seorang karyawan swasta juga penggiat pariwisata yang tentu saja memiliki aktifitas yang padat. Kejadian yang mengharuskan saya istirahat total ini benar-benar menghambat beberapa kegiatan yang sudah direncanakan. Hari-hari aktif saya untuk sejenak harus berjalan dengan tempo lambat.

Tinggal dan besar di kota industri mengharuskan saya menjadi mandiri. Sejak lulus sekolah beberapa tahun silam saya sudah mulai bekerja. Rumah yang berlokasi jauh dari pusat kota mengharuskan saya untuk berkendara cukup jauh dari rumah ke kantor. Bisa bayangin dong situasi macam apa yang saya lewati setiap harinya. Polusi dari asap kendaraan adalah teman akrab seperjalanan saya. Dengan kondisi kota Batam yang merupakan pulau kecil, semakin hari jalanan semakin penuh dengan kendaraan entah motor atau mobil, yang mengakibatkan debu jalanan semakin menguar oleh lalu lalang kendaraan.

Padatnya jalanan
Setiap hari saya bergelut dengan banyak sekali toxic. Saya harus mempersiapkan diri untuk menjalani hari aktif dengan sebaik-baiknya agar tidak stres. Saya sadar badan saya harus dibentengi dengan yang sehat-sehat agar tidak mudah lelah dan apesnya bisa berujung rumah sakit lagi.

Suatu hari saat sedang kepanasan dan kehausan, saya mampir di sebuah supermarket dan melihat Natsbee Honey Lemon. Kemasannya yang berwarna kuning langsung menarik perhatian saya. Gambar lebah yang lucu dan madu di depan kemasan cukup menggiurkan untuk menyegarkan dahaga. Tanpa pikir panjang langsung saya bawa pulang (dengan membayar dulu tentunya).


Dan ternyata rasanya enak banget. Tidak terlalu manis tapi menyegarkan. Saat pertama kali meminum, lidah kita akan dimanjakan dengan perpaduan rasa lemon dan madu. Dan setelah mencari tahu, ada banyak kandungan yang bisa membantu badan saya untuk menghadapi zat-zat negatif yang setiap hari saya hadapi, diantaranya :
1. Air
2. Gula
3. Bubuk madu
4. Lemon bubuk
5. Perisa sintetik lemon
6. Antioksidan asam askorbat

Kandungan yang cukup lengkap dalam sebotol minuman. Perpaduan antara lemon dan madu ini tentu saja semakin memperlihatkan bahwa ada vitamin C yang terkandung dalam Natsbee Honey Lemon. Seperti yang kita ketahui bersama vitamin C merupakan salah satu vitamin yang sangat dibutuhkan untuk kesehatan tubuh. Selain sehat, kemasan minuman ini juga mudah dibawa ke mana saja. 

Diselipkan di jok motor bagian depan? Bisa.

Natsbee Honey Lemon di jok depan motor
Diletakkan di dalam ransel? Jelas bisa.

Natsbee Honey Lemon di ransel untuk berpergian
Di atas meja kerja? TENTU BISA BANGETLAH KAK!

Natsbee Honey Lemon di meja kerja
Sejak menemukan Natsbee Honey Lemon hidup jadi lebih asik. Jadi sekarang kalau lagi 'berperang' dengan padatnya jalanan, stres karena lampu merah yang kelamaan, sesak nafas karena debu jalanan, saya gak perlu khawatir lagi.

Selalu sedia Natsbee Honey Lemon di tengah hiruk-pikuk kendaraan
Mengapa?

Tinggal menegak Natsbee Honey Lemon dan semua toxic tinggal DIHEMPASKAN!



-ameliasepta-

#AsikTanpaToxic

Agustus 29, 2018

Cerita Penuh Cinta di Jogjakarta (Part II)

by , in
Setelah perjalanan yang penuh drama di hari pertama, kami berempat mengawali pagi hari kedua di Jogjakarta kami mengawali pagi dengan segelas teh manis dan soto panas yang tentu saja lagi-lagi harganya mureeeeee.

Day two - 18 Februari 2018

Hari ini kami akan melacong ke sebuah tempat yang sangatlah terkenal di instagram.
MAU TAU?
MAU?
MAU BANGET?
*dikeplak wkwkwk

UMBUL PONGGOK!


Sumber foto dari sini
Pada tau gak? Kalau gak tau FIX KALIAN KURANG GAUL! Huahahaha :))
Umbul Ponggok adalah salah satu wisata air di Desa Klaten, Jawa Tengah. Tempat ini lagi hits banget di instagram dengan konsep foto bawah airnya. Waktu liat foto orang-orang di sini, gue yang walaupun gak bisa berenang, langsung girang gembira juga semangat mendatangi tempat ini. Perjalanan dari Jogjakarta ke Klaten hanya ditempuh kurang dari satu jam. 

ENAK BANGET PINDAH PROVINSI CUMA SEJAM.

Sebelum sampai di Umbul Ponggok, kita akan melihat pemandangan yang didominasi oleh dua warna. Warna hijau yang berasal dari hamparan pematang sawah serta warna biru yang berasal langit di cakrawala juga sebiru hati ini eeeeaaaaa. Dan karena hari ini adalah hari di mana semua orang tua akan membawa anak-anaknya bermain ke tempat-tempat seru, tentu saja, Umbul Ponggok RAMAI! Dari luar terlihat banyak anak-anak berlarian. Tempat itu terlihat benar-benar penuh. Gue cuma terdiam dan sedikit gak mood kalau harus berdesakan dalam keramaian di dalam sana. Namun guide tercinta kami yang tidak dibayar itu, dengan percaya diri segera membeli tiket seharga Rp 35.000/ orang untuk masuk ke dalam. Gue udah mulai misuh-misuh nih males mau masuk dan mencoba membujuk ganti tempat ajalahhhhh. Tapi apa daya suara hamba tidak terdengar oleh mereka semua (ya mohon maap gimana mau kedengeran kan ngomongnya dalam hati huahahahhahaha #perempuaningindimengerti).

Setibanya di dalam gue makin bete. Itu yah tempatnya yang keliatan dari atas item kaya kubangan air penuh dosa. Kagak keliatan tuh ya yang indah-indah kaya di instagram. Merasa tertipu akutu. Gue sempet ngeluh ke Erwin yang rekomendasikan tempat ini,

 "INI KOLAM APA KUBANGAN DOSA GUE WIN?"

Yang dia jawab dengan "KAU MASUK AJALAH DULU KE AIRNYA BARU KOMEN". Dih siapa juga yang mau masuk ke air gitu. Gue heran aja kenapa tempat ini rame banget padahal dari atasnya keliatan item gitu tapi waktu jalan di pinggir kolam sekilas terlihat banyak ikan yang sedang berenang cantik. Karena penasaran gue mencoba melihat lebih dekat dan ternyata airnya bening banget. Terlihat gelap/ item itu kayanya karena pantulan bebatuan dari kolam. Merasa menyesal dan berdosa hamba pada Umbul Ponggok.

Penampakan Umbul Punggok
Gue itu sebenernya gak bisa berenang. Tapi setiap liat air -entah air kolam atau air laut- naluri ingin mencemplungkan diri ini tidak tertahankan. Erwin menyarankan untuk menyewa beberapa perlatan snorkeling dan pelampung. Harga penyewaannya juga cukup murah, berkisar antara 10.000-25.000 per item.

Setelah semua perlatan lengkap tentu saja gue adalah orang pertama yang masuk ke air.

MALU-MALUIN EMANG :))

Airnya dingin dan emang JERNIH BANGET! Gue bisa melihat banyak ikan di berenang di sekitar kaki gue, ada yang sendiri kaya jomblo, ada yang rombongan kaya anak sd lagi tur wisata. Gak lama kami semua sudah di dalam air. Yah walau ada sedikit drama karena temen gue, Liana, takut banget sama air karena ga bisa berenang (PADAHAL DIA PAKE LIFE JACKET) huahahhaa. Bener-bener puas banget berenang dan snorkeling di sini. Areanya luas mulai dari air dangkal sampai dalam. Ikannya juga banyak dan beragam.




Nah untuk foto-foto yang beredar di instagram itu ternyata ada tukang foto khusus yang ditugaskan untuk foto di bawah air. Kalau kalian ingin menambahkan properti foto seperti motor besar, frame besar, dan banyak pilihan lainnya bisa langsung meminta kepada pengelolanya (bayar yah ga gratis). Terus apakah gue foto? TENTU SAJA TIDAK. Selain karena ribet kudu tahan napas sambil senyum, gue juga ga sanggup berlama-lama di dasar sana. Jadi yaudahlah kapan-kapan ajaaaaaaah.

Puas bermain air kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan. Dan gue bener-bener jatuh cinta. Cerita tentang Roro Jonggrang dan penolakan-penolakannya terhadap Bandung Bondowoso meliar dalam kepala. Setiap sudut Candi Prambanan benar-benar menakjubkan. Hari semakin sore dan kami memutuskan beristirahat sejenak sebelum mengeksplore Jogjakarta di malam hari.






Malam hari kami menyusuri kota Jogjakarta. Lampu-lampu kota menghiasi setiap sudut jalanan Jogjakarta. Jalan yang kami lewati semakin menanjak dan udara terasa dingin. Jalanan mulai berkelok-kelok dan sesekali tampaklah di belakang sana kota Jogjakarta dan gemerlap lampunya. Beberapa kali gue tidak sabar dan bertanya-tanya ke mana sebenarnya tujuan kami. Tapi yah hanya Erwin dan Tuhanlah yang tau jawabannya. Hampir dua jam berkendara, tibalah kami di: Pinus Pengger.

Gak pernah dengar?

Kalau kalian lihat foto yang ini pasti langsung tau.


Yap! Tempat yang juga lagi hits banget di Jogja ini adalah Pinus Pengger. Hutan yang dikonsep dengan banyak spot foto yang terbuat dari akar kayu. Untuk mengambil foto di sini kita harus banyak bersabar karena ramainya. Pengelola tempat ini menyediakan nomor urut dan batas waktu untuk yang ingin berfoto. Mereka juga menyediakan fotografer ditambah lagi kita bisa langsung mendapatkan hasil foto di handphone masing-masing dengan membayar Rp 5.000 saja. BAHAGYAAAAANYA NETIZEN!

Lagi bahas masa depan :))

Malam semakin larut dan kami kembali ke kota Jogja. Tujuan kami adalah alun-alun kota. Lalu kami melihat sekelompok pemuda sedang melakukan permainan menarik. Di alun-alun kota ada dua buah pohon beringin, konon katanya untuk bisa melewati dua pohon itu diperlukan hati yang bersih agar tidak berbelok arah. Kami pun langsung mencobanya dan hanya satu orang yang bisa melewatinya. Tentu itu bukan saya sodara-sodara, hatikuh penuh dosahhhh :))

Dari alun-alun kami melanjutkan perjalanan ke Tugu Nol yang legendaris itu dan menyusuri Jalan Malioboro. Enaknya jalan-jalan malam di Jogja kaya gini tuh bisa dapat banyak banget spot foto yang sepi.

Tugu Nol

Kapan coba Jalan Malioboro bisa sepi gini :))
Day three - 19 Februari 2018

Pulang yang terlalu larut karena asik berfoto di Jalan Malioboro membuat gue, Erwin, dan Rama gak bisa bangun pagi. Padahal kita berencana untuk mampir sebentar ke Borobudur (maklum Rama norak belum ke sana wkwk). Liana dan Daniel yang semangat banget ke sana udah pergi duluan pagi-pagi sekali. Gue males ke Borobudur ini cuma karena satu hal: PANAS. Tapi demi menemani Ramadani Saputra Halawa, yaudahlahhh mari berpanas-panasan. Kami berdua ke Borobudur hanya mengandalkan Google Maps. Ke manakah guide tercinta kami? Dia sedang tidur di alam baka. HUAHAHAHAHAHAHA.

Walau sempat tersesat dan tak tau arah jalan pulang~
Kami tiba juga di Borobudur. Langsung masuk ke dalam dan berada di atas Candi Borobudur tepat tengah hari. Langsung kliyengan gue. Rama udah sibuk foto-foto dan gue biarkan dia bebas berekspresi sementara gue berteduh. Kerja sama tim yang baik kan? :)

Sibuk fotografernya
:))
Waktu lagi di Borobudur teringat omongan gue setelah menjejakkan kaki di sini pertama kali tahun 2015 dan menjadikan foto gue di sini sebagai foto profil facebook,

"Gue ga akan ganti foto profil sampai gue bisa ke sini lagi."
Borobudur, 2015
Yang ternyata dikabulkan semesta (lagi dan lagi).

Borobudur, 2018
Dan berakhirlah serangkaian cerita indah di Jogjakarta ini.
Kami menuju stasiun untuk kembali ke Jakarta. 

Jogjakarta adalah kota yang akan selalu gue peluk erat ceritanya.
Kota yang selalu gue rindukan untuk dipeluk gempitanya.
Tempat yang selalu memanggil-manggil gue kembali ke pelukannya.
Kenangan-kenangan yang gue buat bersama orang-orang yang gue cinta.
Terima kasih Jogjakarta.

Di bandara Jakarta, abis ini langsung kerja :))

Itinery & Biaya Perjalanan Jogjakarta 3D2Y:
Tiket pesawat Jakarta - Batam (PP) = 970.000
Tiket KAI Jakarta - Jogjakarta (PP) = 400.000
Sewa motor 3 hari                            = 200.000

Destinasi wisata:
- Kali Kuning (Tiket: Rp 10.000)
- Air Terjun Tlogo Muncar (Tiket : Rp 6.000)
- Mercusuar Pantai Goa Cemara (Tiket : Rp 7.000)
- Umbul Punggok (Tiket Rp 35.000)
- Candi Prambanan (Rp 35.000)
- Pinus Pengger (Tiket : 10.000)
- Candi Borobudur (Tiket: 30.000)



Bonus pict:


Udah berasa geng Harry Potter gue :3

Agustus 24, 2018

Dinner di Gedung Arsip Nasional - Road To Opening Ceremony Asian Games 2018

by , in
Setelah karantina Writingthon bersama Bitread yang dilaksanakan selama dua hari berakhir, kami di "oper" dan menjadi tanggung jawab Kominfo. 


Foto bersama sebelum pindah hotel
Kami diarahkan berpindah hotel yang awalnya di Hotel Millenium menjadi Takes Hotel & Apartment. Letaknya sekitar 600 meter dari Millenium, lumayan terasa yah jalan sambil geret-geret koper. Setibanya di hotel, langsung diberikan kamar dan beristirahat untuk mempersiapkan welcoming dinner di Gedung Arsip Nasional nanti malam.

Takes Hotel & Apartment
Tepat jam 6 sore kami diminta berkumpul untuk berangkat ke Gedung Arsip Nasional, namun titik kumpulnya di Millenium, yang artinya kami harus berjalan kaki menuju ke sana. Gue yang udah dandan maksimal (mau jumpa Pak Menteri soalnya huahaha) males dong mau jalan kaki. Akhirnya sepakat dengan 2 orang lainnya, kita mesen mobil online ajah. Gapapa dah di bilang manja daripada make up luntur :))

Tidak mau make up ini luntur wkwk
Setibanya di Gedung Arsip Nasional, kami disambut oleh dekorasi cantik yang penuh lampu. Berasa lagi ada di Keraton gitu. Wangi bunga-bunga menyambut kami di pintu masuk. Setelah masuk ke tempat makan malam diadakan kami dibuat tercengang lagi. Lampu-lampu semakin semarak dengan suasana outdoor alam. Angin yang bertiup tidak terlalu kencang juga membuat suasana makin semarak.

Gedung Arsip Nasional RI




Berasa putri keraton gituhh 

Sempat kepikiran buat ngadain nikahan di sini HUAHAHAH :))

Acara dibuka oleh MC pukul 8 malam dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hampir sekitar 300 tamu undangan Kominfo yang hadir dan berasal dari bermacam-macam perlombaan, selain kami Writingthon ada juga Asian sehat, Dance Challange, Pesta Rakyat Dance Competition, Duta Supporter Indonesia, dan Virtual Run.

Kata sambutan disampaikan oleh Ibu Rosarita Niken Widiastuti, selaku Direktur Jendral IKP (Informasi dan Komunikasi Publik) Kementerian Komunikasi dan Informatika. Beliau menyambut kedatangan seluruh pemenang yang berasal dari sabang hingga merauke dengan hangat. Dan khusus kepada kami yang diakui sebagai "utusan" penulis dari masing-masing provinsi, beliau secara khusus meminta kami untuk terus menulis tentang Asian Games 2018. Kami berkumpul di sini bukan secara kebetulan, ini adalah merupakan mandat dari Bapak Jokowi dalam menyambut Asian Games 2018. Dan pesan paling penting yang disampaikan beliau adalah Asian Games bukan hanya milik Jakarta dan Palembang namun milik seluruh masyarakat Indonesia dan penjuru dunia. Kami yang digadang-gadang sebagai Duta Asian Games 2018 mengemban tugas untuk menyebarkan semangat positif Asian Games lewat internet.

Ibu Rosarita Niken Widiastuti
Setelah kata sambutan dari Ibu Rosarita, kami langsung dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang disediakan. Ditemani dengan home band yang dari baju-bajunya mengangkat tema tahun '90an. Di tengah-tengah makan malam semakin seru. Teman-teman dari Writingthon mulai mendekati penyanyi untuk bernyanyi dan berjoget bersama. Lagu yang dibawakan juga adalah lagu daerah dari masing-masing peserta, membuat terkenang akan pelajaran kesenian jaman sekolah dulu.

Acara semakin seru karena semakin ramai yang ikut bernyanyi dan berjoget, apalagi ketika lagu  daerah Papua "Sajojo" dibawakan, Natali dan Johan (sahabat Writingthon dari Papua) mengajarkan gerakan-gerakan tarian Papua. Namun ditengah-tengah tarian dan nyanyian, kami harus berhenti karena Pak Rudiantara telah tiba di Gedung Arsip Nasional.


Keseruan teman-teman Writingthon
Ada perkataan MC yang lumayan menggelitik kami para peserta Writingthon,

"Saya kira penulis itu orang-orang yang introvert. Tapi malam ini ternyata banyak juga penulis yang rame dan seru kaya temen-temen dari Writingthon"

Kami langsung tertawa dan saling berpandangan dengan tatapan "WAH BELUM TAU DIA" hahahaha.

Beginilah kelakuan aslinya anak-anak Writingthon :))



Kata sambutan dari Pak Rudiantara selaku Menteri Kominfo
Pak Rudiantara sempat meminta maaf atas keterlambatannya karena dia tidak diberitahu bahwa ada acara di sini pada malam ini (GANTI AJA PAK STAFFNYA, ganti sama gue wkwk). Beliau juga menyambut kami dengan hangat dan mengingatkan kami untuk terus berkarya juga berprestasi.

Makan malam yang berlangsung hangat dan menyenangkan ini ditutup dengan foto bersama masing-masing kategori pemenang dengan Pak Rudiantara. Berakhir juga malam yang indah ini.

Writingthon bersama Pak Rudiantara

Amelia dan Pak Rudiantara :))




ameliasepta