My Head Full of Dream

Juli 30, 2018

Puncak Kerinci - 3805 MDPL

by , in






Setelah membaca bagian kedua dan melihat foto ini, pasti kalian semua berpikir keren banget yah udah bisa menginjakkan kaki di Atap Sumatera/ Gunung Berapi Tertinggi di Asia Tenggara/ 3.805 mdpl atau apapun sebutannya gunung gagah ini. Engga. Gue ga sekeren itu. Senyum gue yang di foto itu juga dengan susah payah gue tunjukkan. Ada perjuangan mati-matian untuk gue sampai di sini. Ada orang yang ikut menangis sambil memeluk gue saat gue hampir tidak sadarkan diri. Dan cerita yang akan gue bagikan ini adalah sebagai pengingat bahwa gue pernah bermimpi segila ini. Punya tekad sebesar ini. Memiliki kekuatan hati setegar ini. Dan beruntungnya, mempunyai orang yang selalu mendukung gue di saat apapun.

JADI?
KITA MULAI YHA...


Entah sudah berapa lama kami berjalan. 3 diantara kami sudah sampai di puncak. Tapi kami bertujuh yang masih keras hati untuk naik ke atas tertatih di jalur berat ini. Kami pun terpisah-pisah. Bang Dayat sama sahabat gue, Putri. Gue ama Rama, di depan ada Angga, Tiara (MASIH 16 TAHUN BTW), dan Dio (ini juga masih muda deh kayanya sekitar 20 tahunan). Karena jalurnya lebar banget kita terpisah-pisah. Masing-masing mencari pegangan dan pijakan yang aman. 

Gue beberapa kali hampir jatuh kepeleset. Tapi kalian tau lah yakan, punya bodyguard pribadi yang selalu jagain. Padahal dia aja gamang ada di ketinggian kaya gini. Ngeluh pusing juga beberapa kali. Tapi tangan dan kaki dia selalu sigap buat nolongin gue yang jatuh. Di tengah perjalanan ini gue menangis. Badan sudah tidak sanggup lagi. Capek banget. Tapi entah kenapa hati gue terus 'memaksa' untuk naik. Gue menangis tersedu-sedu cukup lama. Dan mengajak Rama untuk turun. Rama dengan sabarnya menunggu sampai tangis gue reda. Dan dia mengatakan hal yang manis sekali.

"Sayang, aku tau kamu capek. Tapi coba ingat lagi perjuangan kita sampai di sini. Kamu dari batam naik pesawat, aku dari Pekanbaru motoran. Ke sininya aja udah sulit dan kita tuh tinggal dikit lagi. Kamu tenangin diri dulu yah, aku tetap di samping kamu. Kalau kamu mau turun ayuk. Kalau kamu mau naik ayuk juga. Terserah pilihan kamu yang mana, aku bakal ada di samping kamu"

PLIS YANG JOMBLO JANGAN IRI PLIS :)))

Tapi begitulah perempuan, di mulut bilang apa hati maunya apa.
Barusan minta turun tapi gue malah jalan ke atas.
Iye ke atas dan bukannya ke bawah.
Rama dengan setia lagi-lagi mengiringi langkah gue, tepat di belakang.

Waktu terus berjalan. Sedikit lagi sampai di Tugu Yudha kami diterpa hujan badai dan angin kencang. Dengan kedinginan kami semua bersembunyi di sela-sela batu besar. Dan saat itu 3 orang teman kami yang sudah selesai muncak juga turun dan bertemu kami di sini. Kami diam dalam pikiran masing-masing. Gue yakin sih pasti pikiran mereka berkecamuk. Antara turun atau naik. Terusin atau berhenti. Mundur atau maju. Tapi sahabat gua yang dari Batam, yang namanya Putri itu, keras hati banget dia mau sampai ke puncak. Dan gak mungkin dibiarkan sendirian kan? Gue tau kenapa dia sekeras itu. Perjuangan kami sudah terlalu jauh untuk berhenti sekarang. Akhirnya kami bertujuh memutuskan, minimal kita sampai di Tugu Yudha dululah. Kaki ini kembali melangkah maju.

Dan kami sampai di Tugu Yudha tepat jam 3 sore.

Tugu Yudha

Sebelum melanjutkan cerita, kita mundur sebentar waktu gue lagi belanja beberapa makanan di Batam. Kami waktu itu ada di depan coklat. Putri berkata ke gue tau gak ada cerita yang beredar dikalangan pendaki tentang Yudha. 

"Katanya kalau kita berniat dari bawah membawa coklat/ makanan untuk Yudha, maka Yudha secara misterius akan mengambil coklat itu, entah lewat pendaki lain atau cara apapun. Dan katanya saat kita berniat baik kepada Yudha maka Yudha akan memberikan pertolongan kepada pendaki tersebut."

Ini percaya gak percaya sih yah, karena semua gunung tentu punya cerita kaya gini. Gue dan Putri memutuskan untuk melakukan ini, kita berdua berniat membawa coklat. Bukan dari kaki gunung tapi dari Batam loh niatnya :)) (Walaupun coklatnya Putri udah dimakan rame-rame sama anak-anak yang summit dan coklat gue ketinggalan di dalam tas tapi ternyata kami benar-benar merasakan "kebaikan Yudha").


Di dekat Tugu Yudha, berdiri juga Tugu atas nama Adi Permana

Kami semua berdiam diri dan menatap Tugu Yudha. Entah kenapa saat berada di sini hati kok kayanya sedih banget. Dan gue meneteskan air mata lagi. Gak tau yah gimana dengan teman-teman yang lain. Tapi gue sedih banget, gak tau juga kenapa -_-

Gue udah gak kuat lagi. Temen-temen yang lain juga. Kita semua udah ada di kondisi yang tidak memungkinkan lagi sampai di puncak. Hari juga sudah sangat sore. Tapi puncaknya sekarang ada di sini, di depan mata kami, ibaratnya kami tinggal buka pintu dan masuk. Kalau kami gak masuk sekarang entah kapan kesempatan itu datang lagi. Angga dan Bang Dayat bercakap-cakap menggunakan bahasa Minang memutuskan, menimbang, apakah perjalanan ini akan dilanjutkan atau cukup sampai di sini. Dan tentu saja kami dengan keras kepala melanjutkan perjalanan di tengah angin kencang dan kabut.

Angga, Tiara, dan Dio (walau berat hati gue akan mengakui) dengan usia mereka yang masih muda tentu saja mereka dengan cepat memimpin di depan. Tanpa terasa mereka sudah jauh di atas sana. Putri dan Bang Dayat menyusul setelahnya, dengan tertatih juga. Gue dan Rama paling belakang. 

Dan saat paling mendebarkan juga menyeramkan dalam hidup gue, terjadi.

Jarak mulai melebar antara kami dengan yang lainnya. Kabut mulai tebal dan jalur mulai tidak terlihat. Fisik gue yang udah letih banget mulai drop. Gue terduduk. Lagi-lagi menangis. Angin bertiup sangat kencang. Saat itu gue memakai baju 4 lapis ditambah jaket yang tebel banget, tapi gue tetep menggigil. Ini dingin yang gak biasa. 

Rama sempat berkata "Len, gapapa kalau kita ga bisa sampai di puncak gunung yang ini. Masih banyak juga kok puncak gunung lain yang bisa kita injak barengan. Yang penting itu ya kamunya. Kalau kamu mau tetap naik, aku temenin. Tapi kalau kamu mau turun, aku juga bakal ada di samping kamu."

Gue cuma terduduk dan mulai mengantuk. Ini artinya gue dalam bahaya. Rama yang melihat gue diam mulai panik. Dia memaksa gue untuk terus berjalan. Satu langkah berjalan, gue duduk lagi. Kantuk yang datang bener-bener buat badan gue gak berdaya. Angin bahkan semakin kencang dan temen-temen gue tidak terlihat lagi. Karena kencangnya angin yang datang, Rama memaksa gue untuk sembunyi di antara batu-batu. Walaupun tidak ada lagi batu yang terlalu besar di sini tapi setidaknya badan gue agak tertutupi. Gue udah lemah banget. Gue cuma pengen tidur. Tapi setiap kali nyaris tertidur, Rama menampar pipi gue. Saat badan gue mulai oleng terbaring, dia menggoncangkan keras badan gue. 

Waktu itu yang terpikir adalah apakah hidup gue berakhir di sini? Di tempat yang paling gue cintai? Terus orang tua gue gimana? Gue belum sempat pamitan. Bayangan keluarga gue mulai bergantian muncul di kepala gue. Kepala gue berat dan gue cuma ingin tidur. Rama yang melihat kondisi gue udah separah itu gak tau harus ngapain. Kami cuma berdua di sini. Dia beberapa kali meneriakkan nama temen-temen kami yang di depan berharap mereka mendengar dan datang memberi pertolongan. Tapi hal itu sia-sia belaka. Kabut terlalu tebal dan membawa teriakan Rama entah ke mana. Rama berkali-kali memaksa gue untuk tetap sadar. Tidak dia biarkan gue menutup mata walau sekejap. Entah gue bermimpi atau tidak tapi sepertinya gue melihat dia menangis di tengah ketakutannya. Kalau gue "pergi" sekarang, apa dia bakal baik-baik aja? Hati gue bertanya. Dia tidak berhenti menggosokkan telapak tangannya ke gue yang bukannya hangat tapi makin dingin karena angin. Dia belum kehabisan akal. Dia berniat membuat api dan yang bisa dibakar saat itu hanyalah gaiter yang ada dalam tasnya. Tanpa ragu dia membakar gaiter itu. Tindakan yang sia-sia tentu saja karena angin benar-benar kencang. Gagal membuat api yang dia lakukan hanya memeluk gue sambil berkata "kamu kuat len, kamu kuat.". Berkali kali dia menyebutkan kalimat itu.

Dan percayakah kalian pada yang namanya keajaiban?

Entah sudah berapa lama gue dan Rama terhenti di jalan itu. Mungkin temen-temen gue udah sampai di atas sana. Dan gue masih ada di sini, menggigil, kedinginan, tapi tidak sendirian. Dan angin yang sedari tadi kencang menghantam tubuh kami berdua entah kenapa tiba-tiba mereda. Langit yang hitam kelam mendung seketika berubah berawan bahkan membiru. Kabut tidak lagi tebal. Tidak benar-benar hilang tapi membuat jalanan menuju puncak kembali terlihat. Seharusnya di saat kaya gitu yang gue lakukan adalah turun kan? Tapi engga, gue gak akan menyerah semudah itu. Entah dapat kekuatan dari mana gue berdiri. 

Gue menatap Rama dan bertanya "aku kuat kan yang?"

Dia mengangguk. Dan mengusulkan untuk berjalan secara perlahan. Dia bilang semampunya saja. Kalau di tengah perjalanan teman-teman kita turun berarti segitulah perjalanan yang mampu gue tempuh bersama dia. Berjalan dua langkah gue melihat dia di belakang dan kembali bertanya, 

"aku kuat kan yang?" 

"aku bisa kan yang?"

Cuma dua pertanyaan ini yang selalu gue tanyakan. Dan Rama selalu mengatakan "KUAT. KAMU KUAT". Selangkah demi selangkah. Kami semakin ke atas. Teringat pesan salah satu teman yang sudah ke puncak bahwa gue gak boleh jalan lurus terus, gue harus berbelok ke sebelah kiri karena di depan itu langsung kawah gunung ini. Setiap langkah gue dan Rama bergantian meneriakkan nama Bang Dayat, Putri, dan Angga. Berharap mereka mendengar. Karena fokus pada jalanan gue dan Rama sempat terpisah sedikit. Gue di sebelah kiri dan Rama di sebelah kanan. Dan saat itulah gue melihat teman-teman gue.

Gue menangis.

Bang Dayat dan Angga yang melihat gue dan Rama datang langsung berlari menjemput kita. Gue hanya bisa terdiam di tempat gue berdiri tanpa bisa melangkah lagi. Itu temen-temen gue. Mereka ada di depan gue. Dan gue sekarang ada di puncak. Gue gak bisa berhenti menangis. Saat Bang Dayat sudah dekat dengan gue dia langsung memeluk gue sambil menangis. Angga yang menghampiri Rama juga menangis. Sungguh perjalanan ini tidak mudah. Gue ditarik untuk berjalan ke arah temen-temen gue yang lain dan memeluk mereka satu per satu sambil mengucapkan selamat. 

Kami bertujuh berhasil menginjakkan kaki di puncak tertinggi Sumatera!

Kalau bukan karena wanita berjaket merah itu, gue dan mereka semua tidak akan ada di sini. Keras hatinya memotivasi kami untuk terus melangkah maju. 

Mukanya sok bahagia padahal kami habis nangis tersedu-sedu, dia bahkan sudah membuat video kirim salam untuk gue dan Rama, karena mengira kami tidak akan sampai di atas sini :')


My guardian angel :)

Kami tidak berlama-lama ada di puncak karena sudah sangat sore. Kami memutuskan untuk turun. Cuaca masih lumayan cerah. Saat turun kami memutuskan kembali mampir di Tugu Yudha, Rama bilang kami harus "berterimakasih". Agak bingung sebenarnya tapi gak mau bertanya juga. Mungkin benar cerita orang, terkadang Yudha memberi bantuan kecil (gue masih percaya sama Tuhan Yang Maha Esa, tapi gak ada salahnya memberi apresiasi di alam ini). Kami mampir di sini dan lagi-lagi kesedihan menghampiri kami. Kayanya emang kalau ke Tugu Yudha ini auranya sedih banget yah. Gue meninggalkan dua gelang di bawah batu masing-masing tugu. Sedikit ucapan terima kasih dari yang hampir "lewat" di atas sana.

Jalan turun masih jauh gaisssssssssssss :(

Perjalanan turun lumayan berat. Karena namanya juga jalur turun pasti dua kali lipat lebih berat. Tapi yang sebenarnya membuat berat adalah kondisi fisik kami yang sangat memprihatinkan. Gue sadar ini adalah tindakan yang sangat salah. Harusnya kami menyisakan tenaga untuk turun. Shelter 3 sudah tampak di depan sana dan langit seketika berubah mendung. Petir terdengar besahut-sahutan. Karena posisi kami yang masih di ketinggian, rasanya petir dekat sekali dengan telinga. Kami mempercepat jalan turun. Di bawah sana teman-teman yang sudah duluan summit tadi ternyata menunggu kedatangan kami, aduh terharu. Ada yang berlari menghampiri kami memberikan air minum. Ada yang menawarkan bantuan. Kondisi kami yang parah banget ini gak memungkinkan untuk kami balik ke Shelter 2, entah bagaimana caranya, teman kami berhasil membujuk yang lagi camp di Shelter 3 untuk kami tumpangi. Kan udah gue bilang tadi di gunung mah orangnya baik-baik hahahha.

Sebelum sampai di tenda, hujan disertai angin kencang mulai turun. Jangan sampai kami kena badai sebelum sampai di tenda. Gue kembali oleng. Nyaris pingsan. Bahkan berjalan aja udah gak sanggup. Rama dengan stamina yang udah habis juga gak bisa berbuat apapun buat bantuin gue. Dia berteriak memanggil 2 orang di depan kami, Ikram dan Tedi. Mereka berdualah yang membopong (menyeret lebih tepatnya) sampai di tenda. Dan sampai di tenda, badai tiba. Gue yang setengah pingsan mulai menggigil. Dan yang ditakutkan tentu terjadi. Hipo (lagi) pft. Beruntung anak-anak yang tendanya kami tumpangi berbaik hati sekali kami repotkan dan menolong gue serta yang lainnya. Badai berlangsung cukup lama dari habis maghrib sampai lewat tengah malam. Kami cuma bisa meringkuk di tengah-tengah angin yang menderu-deru di luar sana. Benar-benar mengerikan malam itu :(

HARI KE 5 - 02 Juli 2018

Tapi badai pasti berlalu. Pagi hari tiba. Dan ternyata abang yang kemarin sempat membuat kami down itu berbaik hati membawakan beberapa sleeping bag juga makanan untuk kami. Perut akhirnya terisi juga. Pagi itu kami disambut dengan matahari dan langit biru. Melihat pemandangan seindah ini agak gak percaya kalau tadi malam, alam baru saja mengamuk.

Gunung Tujuh ada di belakang sana

Dia drop juga semalam wkwkw

Abang berbaju hitam dari sebelah kanan dan di samping yang berjaket biru, adalah yang berbaik hati membiarkan kami menumpang dan menolong gue hipo tadi malam
THANKYOU KALIAN :3


Kami tidak berlama di sini dan segera turun. Ini udah hari ke-5 yang artinya besok adalah jadwal pesawat pulang kami. Jadi hari ini juga kami memutuskan turun gunung. Perjalanan dari Shelter 3 ke Shelter 2 tidak terlalu terasa semenyakitkan kemarin saat naik. Sesampainya di Shelter 2 kami langsung bersiap-siap, packing seluruh barang, dan turun. Tas yang di pundak menjadi lebih lebih lebih berat. Karena semua baju dan barang basah. Tasnya basah. Tapi udahlah tinggal turun ini, gue menguatkan hati.

Naik turun kami berempat gak terpisahkan pokoknya :))

Tim Marapi di Shelter 2

Gak beda jauh sama naik, pas turun pun dibantai lumpur

Perjalanan dari Shelter 2 sampai pos 3 berjalan dengan aman. Tapi dari pos 3 dan pos 1 kami merasakan banyak kejadian aneh. Mungkin karena fisik kami yang lemah makanya kami gampang terkena "gangguan". Tapi puji Tuhan semua berjalan dengan baik-baik saja. Walau agak lambat kami sampai di Pintu Rimba pukul enam sore. Lagi-lagi kami dijemput karena mereka khawatir kami belum juga sampai. Dan perjalanan melelahkan ini ditutup dengan bersih-bersih di Warung Pakde di kaki gunung.

Ada satu hal yang menyedihkan tentang Kerinci. Walaupun sudah berstatus Taman Nasional tapi kebersihan di gunung ini benar-benar tidak terjaga. Di Shelter 3 sampah bertaburan dan tidak dibawa turun. Sedih melihat banyak sekali orang yang naik ke atas sini tapi tidak mawas diri tentang sampah mereka sendiri.

Sampah di belakang teman saya itu :(
*tolong jangan salah fokus, mereka emang aneh wkwkw*

Di sini juga banyak :(

Besar harapan semoga pemerintah bisa lebih tegas terhadap semua pendaki di gunung ini. Jangan biarkan mereka meninggalkan sampah di sini. Gunung ini terlalu indah hanya untuk dikotori dengan sampah.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gunung Kerinci, 3.805 mdpl.
Adalah sebuah perjalanan yang tidak akan pernah gue lupain seumur hidup.
Perjalanan ini mengajarkan gue banyak hal.
Tentang menjadi lebih sabar, menjadi lebih tabah, menjadi lebih kuat, menjadi lebih tegar.
Tentang persahabatan yang saling mendukung.
Tentang memilih keputusan-keputusan penting.
Tentang dia yang tidak pernah meninggalkan.

Terimakasih Kerinci.




-ameliasepta-


Berikut rincian biaya untuk mendaki gunung Kerinci:

Tiket PP Batam-Padang = 1.329.200 (promo airy dan pemesanan saat peak season)
Sewa mobil dan akomodasi = 1.000.000 
Iuran kelompok (inc: logistik, simaksi, biaya lain-lain) = 200.000

Gue tidak menghabiskan uang lebih dari 500.000 (di luar tiket pp). Jauh lebih murah dibanding harus ikut open trip. Jadi yuk segera atur perjalananmu ke sini.


Bonus pict:

Lelah ya Ram, gimana ke puncak pelaminan coba :))

Juli 24, 2018

Gunung Kerinci dan Segenggam Mimpi, 3.805 mdpl (Bagian II)

by , in

Baca perjalanan sebelumnya di sini


SHELTER 1

Perjalanan dari Pos 3 menuju Shelter 1 benar-benar menghabiskan tenaga. Kami memang memutuskan untuk ngecamp di Shelter 1 mengingat fisik semua anggota tim sudah sangat kelelahan. Jalur dari Pos 3 dan Shelter 1 juga gak kalah gila. Kadang benar-benar harus memanjat, menarik akar kayu, bersandar di pohon besar, dan berpegangan pada dahan. Gak main-main emang perjalanan dengan membawa beban berat di pundak itu. Beberapa kali Rama (kekasih gue #tsahhh) mengajukan diri untuk membawakan carrier, yang tentu saja langsung gue tolak. Tas dia aja udah berat banget karena bawa tenda, masa gue harus nyusahin pake tas gue lagi. Terus ini adalah pengalaman pertama dia naik gunung. Dia belum ada ngeluh sih, tapi mukanya udah keliatan cape banget, kan kasiaaaannnnn :((

Kasian banget ga sih ini anak orang :))

Hari semakin gelap. Target perjalanan yang seharusnya kami sampai di jam 5 sore, mundur. Sampai jam enam sore, kami berempat belum sampai juga di shelter 1. Udah mau nangis karena capek banget. Tapi ngeliat temen-temen gue juga pada kuat, itu menguatkan hati gue. Jangan lemah. Jangan lemah. Jangan lemah. Mantra gue dalam hati. Kami sempet mikir kamilah rombongan terakhir pendakian hari itu. Tapi ternyata gak lama muncul juga sekitar 5-6 orang di belakang kami. Gue agak bersyukur karena membayangkan kami berlima (gue, Rama, Putri, Dayat, dan Fadli) aja di hutan rimba ini agak :((

Semangat kak, bentar lagi sampe
*WALAU ITU HOAX*

Gue udah berjalan dengan keputus-asaan. Entahlah di mana itu Shelter 1. Daritadi gak sampe sampe juga. Hujan juga kaya lagi konspirasi gak berhenti turun dari tadi. Tampilan gue yang dari basecamp keren banget itu udah gak berbentuk lagi. Udah basah. Penuh lumpur. HUAAAA :(

Jam setengah tujuh sayup-sayup terdengar suara orang berbincang-bincang dari atas sana. Gue yang udah lemes banget jadi semangat lalu berteriak kepada temen-temen gue yang di belakang. 

"SHELTER 1 DI ATAS! YUK WOI SEMANGAT!"

Sebenernya itu mah kata-katanya buat nyemangatin diri sendiri yaaa wkwkwkwk.

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan itu. Tibalah kami di Shelter 1 dengan ketinggian 2.505 mdpl. Kami sampai saat gelap. Gak tau di mana teman-teman kami. Tenda yang baru berdiri hanya satu. Jadi kami harus bangun tenda lagi. Yang cowok-cowok langsung sigap membangun tenda untuk kami yang baru sampai. Kalau dari yang gue baca yah, Shelter 1 ini adalah tempat paling pas untuk ngecamp tapi setelah hujan sepanjang hari, tempat ini jadi benar-benar memprihatinkan. Becek di mana-mana. Jalan dikit kepleset. Haduuuuu :(

Setelah tenda berdiri, kami langsung berganti baju karena baju yang kami gunakan sebelumnya sudah basah total. Beberapa anggota tim bahkan tidak lagi memedulikan perut laparnya dan langsung tertidur. Tapi tidak dengan kami wkwkwk. Kami sempat memasak "seadanya". Setidaknya agar perut tidak terlalu kosong dan bisa tidur dengan tenang agar stamina kembali keesokan harinya. Setelah selesai makan, kami pun beristirahat.

Dan di sini gue merasa berdosa banget sama Rama. Sebagai informasi, Rama tidak pernah naik gunung sama sekali dalam hidupnya. Dan sebenarnya dia juga gak tertarik. Anak ini lebih mencintai pantai dan biota laut. Jadi ini adalah benar-benar hal yang baru untuk dia. Dan malam pertama dia di gunung, dia menggigil kedinginan. Serius gue takut banget. Kalau sampai anak ini kenapa-kenapa, gue mesti bilang apa sama orang tua dia. Pikiran gue berkecamuk yang akhirnya gue malah tersedu-sedu nangis di samping dia *IYA KAK AKUTU LEMAH HATINYA :(

Enak banget yah yg diriin tenda di situ, asik bener idupnya :((

HARI KE 3 - 30 Juni 2018

Pagi harinya kami bangun dengan badan remuk. Gue sih yang remuk, Yang lain gatau wkwkw :))
Mungkin karena hari sebelumnya lumayan banyak terjatuh dan menggunakan tenaga makanya di beberapa bagian badan terasa sakit. Setelah hari terang maka terlihatlah betapa menyedihkannya sepatu-sepatu kami. Kami kaya abis celupin kaki ke kubangan. Semuanya mengenaskan. Tidak ada satupun sepatu yang bersih :))

Mon map ini sepatu apa sampah :))

Untungnya hari ini matahari bersinar cerah dan kami semua berharap cerahnya bukan sementara kaya perasaan dia. Kami segera memasak sarapan dan bersiap-siap karena akan melanjutkan perjalanan ke Shelter 2. Katanya nih katanya, perjalanan Shelter 1 ke Shelter 2 adalah jalur terpanjang dan memakan banyak waktu. Makanya daripada terulang lagi kami yang sampai kemaleman dan kesulitan mendirikan tenda, strategi berubah. Anak-anak cowok yang bawa tenda disuruh jalan duluan biar sampe duluan dan bisa diriin tenda sebelum temen-temen yang lain sampe. Nah kan awalnya tenda kami dibawa Rama nih, tapi anak ini emang cinta banget ya ama gue *ditoyor, dia gamau jalan duluan, tenda kita akhirnya dibawain sama anak baik hati, Ikram.

Selfie dulu sebelum dibantai jalur lagi 


Perjalanan dimulai lagi...

Karena stamina yang mulai pulih dan cuaca yang cerah, perjalanan menjadi sedikit lebih menyenangkan. Kami bahkan sudah bisa saling menertawakan satu dengan yang lainnya. Tapi itu hanya sesaat gaisss! Jalur pendakian mulai curam. Sisa hujan semalam masih terlihat di jalur yang licin. Kami bahkan harus bekerja sama saling tarik menarik untuk bisa ke atas. Ditambah lagi beban tas semakin berat karena membawa baju basah.

Sok pose padahal udah berapa kali jatoh :))

Tergelincir, sering.
Terpeleset, selalu.
Jatuh, jangan ditanya sudah berapa kali.

Sok keren padahal udah keberatan wkwk
Abang ini yang selalu sabaaaaaaarrrrr mendampingi dia eeaa

Tapi kaki ini terus mantap melangkah ke depan. Kadang kalau liat batang pohon, gue bakal berlari-lari semangat hanya untuk tiduran di sana hahahaha :))

Sayang gue ama kayu yang melintang gini, Rama aja lewat :))


Gak bohong sih yang bilang jalur ini terpanjang. GAK SAMPE-SAMPE DONG KAMINYA!
Tempo perjalanan kami yang awalnya cepat mulai melambat. Apalagi sahabat gue yang dari Batam datang bulan *YHA BHAIQ*. Tentu saja itu menguras habis stamina dia. Kalau gue jadi dia sih ya gak bakal kuat. Tapi emang anaknya keras hati. Dia tetep pengen bawa tasnya sendiri. Berkali kali ditawarin untuk dibawain dia menolak. Yah gak tau diri juga kalau dibawain secara semua bawa tas wkwkw. Gue ama sahabat gue sepakat untuk satu hal: apapun yang terjadi kami bakal bawa tas kami sendiri sampai atas dan turun, gamau nyusahin orang kamitu.
Maka kami memakai jurus orang tua jaman terdahulu: "biar lambat asal selamat".

Sudah tidak teratur lagi bentuk rambut dan muka :')

Hari sudah sore dan Shelter 2 belum tampak juga di depan mata. Tim sudah terpisah-pisah. Tapi kali ini kami tidak menjadi yang paling belakang. Kami di tengah. Jalur semakin curam dihiasi batang kayu di sisi kiri dan kanan. Pepohonan juga semakin rapat sehingga hutan semakin terlihat gelap. Nah lagi-lagi ditengah keputusasaan terdengar sayup-sayup suara orang ngobrol. Gue yang paling depan optimis dong, kembali berteriak menyemangati temen-temen biar cepet sampe.

Tapi begitulah kata orang tua...
"JANGAN TERLALU BANYAK BERHARAP BIAR GA KECEWA"
Ternyata itu adalah Shelter 2 bayangan. SAKIT HATI INI RASANYA :((

Tapi ada bagusnya juga kami melihat orang-orang yang camp di sini. Kami sudah kehabisan air dan dengan tidak tau dirinya kami meminta air dari abang ganteng yang lagi nenteng 1 plastik air hhahahaha :)) Dikasih? YAIYALAHHHHHHHHHHHHHHHHH! Kenapa gue tu suka naik gunung ya karna ini, orangnya baik-baik. Coba kalian di bawah sana minta air pasti dapet kata-kata: BELI LAH BIAR TAU HARGA YEKEN *anak Batam punya cerita.

Anyway, kebaikan hati abang itu gak sampai di situ aja. Dia bahkan menawari kami untuk mampir ke tempat mereka. Saat kami akan mampir, dari atas salah satu teman kami yang tadi membawa tenda berlari-lari. Ternyata tenda kami sudah berdiri di Shelter 2. Dan jaraknya tidak terlalu jauh. Ini jelas membangkitkan semangat kami lagi. Gue dan Rama melaju. Sempat ditawari untuk dibawakan tas, kami menolak. Masih kuat kok ini. Tapi sahabat gue tertinggal di belakang. Stamina dia pasti terkuras habis akibat datang bulan. Tapi karena udah datang bantuan dari atas gue dan Rama memutuskan mencicil perjalanan sedikit demi sedikit. Setelah melewati jalur terjal beberapa kali. Gue melihat tulisan "SHELTER 2, 3.100 mdpl". 

3.100 mdpl

Sungguh ingin menangis. Belum puncak loh ini, tapi gue udah nyaris mewek. Setelah di puk-pukin sama Rama kitapun menuju tenda. Dan bener aja. Tenda udah berdiri semua. Gak lama setelah itu sahabat gue dan temen-temen yang lainpun sampai di tenda. Walaupun gak hujan, ketinggian segini membuat angin bertiup sangat kencang. Akhirnya hari yang melelahkan itu pun berakhir.

Sempet ada drama nih di Shelter 2 ini. Kami semua udah kehabisan air dan belum ada yang makan. Mungkin karena udah pada capek, gak ada satupun yang mau ngambil air. Padahal kita semua lagi kelaparan sama kehausan nih. Parah banget sih emang kalau ego udah berbicara ini yah :( Sampai jam 10 malam, semua udah masuk ke tenda masing-masing. Gue udah dehidrasi parah dan berujung sesak nafas. Butuh air banget. Udah teriak ke tenda sebelah kanan dan kiri tapi entahlah ya mereka pura-pura gak denger atau gimana, gak ada yang nyautin. Rama yang gak tega ngeliat gue kaya gitu akhirnya memutuskan untuk mencari air.

"Bodo amat sendirian ambil airnya daripada kamu kenapa-kenapa", kata dia. Coba deh gimana ga makin cinta akutu :3

Sebagai pacar yang baik gue ga mungkin dong ngebiarin dia ambil air sendirian, di hutan, gelap pula. Ntar dia ilang. Makanya gue memutuskan untuk nemenin dia. Sahabat gue yang datang bulan itu ternyata dehidrasi juga dan mutusin untuk ikut juga. Agak bahaya nih sebenernya karena dari tadi tuh dia udah sering "diganggu" (tau sendiri kan datang bulan di gunung itu adalah pantangan besar). Tapi daripada kita kehausan, terus ngarepin orang lain, yah siapa lagi yang mau diharapkan selain diri sendiri. Kami bertiga keluar tenda. Ternyata satu cewek lagi (yang juga datang bulan) di tenda sebelah memutuskan untuk ikut juga. Katanya sih ini pancingan biar cowok-cowok tuh pada tau diri gitu terus ambil air, MASA KALAH AMA CEWEK WOI!

Ternyata niat kami membawa hasil baik. Dua cowok memutuskan ikut biar yang cewek-cewek gak usah pergi. Ingin sekali gue berteriak "KENAPA GA DARI TADI SIH WOI". Tapi yaudahlah. Yang penting mereka udah peka. Jadilah mereka pergi bertiga bersama Rama. Sekitar 20 menit kemudian mereka kembali. Dan gue cukup kaget sih liat Rama penuh lumpur. Cerita punya cerita, dia kepeleset. Yaampun kasian :((

Lalu masuk ke bagian yang paling kesel nih. Tadi kan tuh ya semua orang dalam tenda kaya udah tidur kan? Ya kan? Pas air datang, mereka semua secara ajaib bangun dan keluar tenda.
Gue cuma bisa....



Akhirnya kami semua bisa masak, minum air, dan tidur nyenyak setelah drama itu.

Perencanaan summit sebenarnya adalah di jam 4 subuh. Tapi salah satu anggota tim menyarankan untuk di jam 7 pagi aja mengingat kondisi fisik teman-teman yang tidak memungkinkan. Gue dan sahabat gue udah lirik-lirikan kesal nih. Tapi kami gamau egois. Yaudahlah yang penting ntar bareng-bareng, begitu yang kami pikirkan.

TAPI OH TAPI...
Kekesalan kami semakin memuncak.
Karena saat jam 7, kami membangunkan seluruh anggota tim, dan orang yang mengusul kami untuk summit jam 7 pagi itu berkata...

"AKU GA IKUT YA"

Boleh melakukan tindakan kriminal ga sih di gunung? Hati kecil ini berkata. Ya dia enakk yah udah pernah ke sini. Lah gue ama yang lain-lain kan belom. Marilah kita menghela nafas untuk menahan emosi yang ingin tumpah ruah ini HAFT~

HARI KE 4 - 01 Juli 2018

Seperti cerita sebelumnya, rencana summit di jam 7 pagi tinggal cerita belaka. Bersiap-siap dan membangunkan anggota tim lumayan menghabiskan waktu. Gue sama Rama bahkan ga sempet sarapan karena diburu-buru pergi. Ini adalah kesalahan kami yang pertama. Muncak tanpa makan adalah sebuah kesalahan fatal yang jangan sampai diulangi lagi.

Kami mulai berjalan mengusuri jalur yang dikenal dengan "jalur setan". Awalnya bertanya-tanya sih kenapa jalur ini dinamai begini. Dan setelah gue jalani, gue mengerti. Setiap melangkah di jalur ini pengen teriak:

SETAN! SETAN! SETAN!

Hahahahahahahhahahah :))

Jalurnya itu ($&(*^&!^(*#^%*&^%*^~*%~&!~%*&%^*^$&^%&^^^^)*~(*!&^%!$

Gue ampe ga bisa loh mendeskripsikan bagaimana terjal dan menyakitkannya perjalanan dari Shelter 2 ke Shelter 3 ini. Semakin sering berhenti makin capek. Tapi kalau gak berhenti lebih capek #NAHLOH.

Tangan dan kaki bener-bener harus kerjasama di jalur ini. Beruntung banget waktu lewatin jalur ini gak bawa carrier, kalau gak bisa oleng ke belakang gue. Manjat, bertumpu pada lutut, mengulurkan tangan untuk meminta bantuan teman, adalah kegiatan yang dilakukan terus menerus. Sungguh kuingin menangis di jalur ini :((

Lagi dibantai habis-habisan sama jalurnya

Setiap menghela nafas dan memalingkan wajah pemandangan yang disuguhkan sungguh aduhai. Hamparan pemandangan sekitar gunung, langit, dan awan yang menyatu, membuat lelah ini hilang sejenak. 

CUMA SEJENAK AJA! Karna abis itu tentu harus disiksa lagi :(

Ampe dua orang lho yang bantuin wkwk

Gue gak kenal kata menyerah. Gak boleh lemah. Itu mantra yang selalu gue ucapin dari perjalanan menuju Shelter 1. Dan masih akan gue ucapin terus setiap kali badan gue manja minta disayang-sayang. Gue percaya gue kuat. Gue tau gue bisa. Dan di sini banyak teman-teman yang gak akan berhenti untuk menarik gue ke atas. Gue pasti bisa.

Komuk uda ga kontrol lagi pokoknya

Jalan terus entah sampai kapan~

biar semangat suka disuruh pose :))

Hampir 4 atau 5 jam berjalan di kejauhan mulai terlihat banyak tenda. 

AKHIRNYA!!!

SHELTER 3

Ketinggian di sini kira-kira sudah mencapai 3.291 mdpl. Dan kami kehabisan air. Lagi-lagi banyak banget orang baik hati di gunung ini. Kami kembali mendapat "asupan" air dari teman-teman yang udah mau turun. Makasih ya abang-abang :3 
Kami sampai di Shelter 3 sekitar jam 11 siang. Terlalu siang yah untuk orang yang mau summit. Tapi yawdaahhhhlaaahhhhhh, kami mencoba menikmati perjalanan yang sangat kesiangan ini.

Baru sampai di Shelter 3 aja kami udah bahagia banget :))

Mungkin karena jalurnya benar-benar berat. Jadi dari ketinggian di sini aja pemandangan udah indah banget. Dan ini adalah kesalahan kami yang ke dua. Kalau kami emang tujuannya adalah puncak seharusnya kami tidak membuang-buang waktu lebih lama di cadas agar bisa mengejar waktu sampai di puncak. Tapi juga susah yee kalo orang liat pemandangan bagus. Bentar-bentar foto. Bentar-bentar video. Kami bahkan sempat duduk-duduk bersenda gurau. Sebenarnya ini bukan tanpa alasan. Dari cadas puncak terlihat dekat. Kami terbuai dengan tipuannya.

Duduk santai dulu ama abang Rama


masih bisa selfie plus santai-santai

Puncaknya di sana. Keliatan deket?
HA HA HA HA HA :))

Susah ya jadi netizen kekinian ini, ga cape-capenya foto wkwkw.
Perlahan-lahan kami pun melanjutkan perjalanan. Beberapa kali kami bertemu dengan orang-orang yang sudah selesai summit dan mengatakan kalau sekarang terlalu bahaya untuk ke atas. Belerang sudah mulai naik. Selain itu juga kabut dan angin bertiup sangat kencang sehingga jalur menuju puncak yang berdebu mulai menyesakkan dada. Dalam hati ini sebenernya gue juga udah ga yakin sih bisa sampai di atas. Karena kondisi fisik sudah tidak memungkinkan, makanan yang kita bawa juga abis, ditambah lagi kami yang tidak sarapan sebelum berangkat, semua sudah mulai kelelahan. Dari 18 orang anggota tim, hanya kami ber-10 yang terus naik perlahan-lahan ke atas.

Gue inget banget perkataan salah satu teman, bang Dayat namanya (dia yang selalu bersama-sama gue di perjalanan kemarin),

"KITA KAN PENDAKI LAMBEK, LAMBE-LAMBEK SAMPE JO KA PUNCAK"
(Kita kan pendaki lambat, lambat-lambat sampai juga di puncak)

Jadi kita emang bener-bener berjalan dalam tempo yang lambat. Jalurnya jangan ditanya lagi. Terjal sekali! Berpasir dan penuh bebatuan. Kadang karena terlalu miring, kami harus beberapa kali berpegangan atau bertumpu pada bebatuan yang lebih besar.

Menarik nafas sebentar sebelum berjalan lagi

Kabut, angin kencang, menjadi teman selama perjalanan

Anak ini sama sekali gak pernah jauh-jauh dari gue :3

Serius ini berat banget jalurnya :(

Ada sedikit cerita mengesalkan saat kami sedang berjalan menuju puncak. 

GILA YA W KESEL GA ABIS-ABIS DI PENDAKIAN KALI INI WKWKWKWK.

Jadi sebelum terlalu jauh menuju puncak, beberapa anggota tim ada yang menyusul kami, bahkan ternyata mereka semua berangkat ke atas sini (iya yang tadinya bilang gak mau ikut itu juga akhirnya ikut -_-). Terus waktu dia ketemu kami pertanyaan yang dia lontarkan sungguh buat down,

"Kalian yakin mau sampai puncak?"

Udah.
Cuma satu kalimat itu.
Tapi bener-bener buat emosi naik ke ujung kepala.
Maksudnya ya kan kami emang tujuannya puncak.
Kalau emang menurut dia gak bisa ya mending bilang dari bawah tadi atau gak usah ngomong sama sekali deh. Bener-bener jatuhin semangat. Gue tau dia udah pernah sampai di atas sana. Gak minta dia nemenin sampe atas juga. Tapi minimal hargai perjuangan orang lain. Mohon maaf ini sekarang gue lagi mode keras kepala banget.

Begitulah kami tidak peduli dengan omongannya dan tetap melanjutkan perjalanan secara perlahan.



Ceritanya dihentikan sampai sini dulu yah.
Karena apa?
Part 3 akan benar-benar menguras emosi dan air mata
*HALAH~

Tapi serius...
Perjalanan dari Shelter 3 menuju puncak adalah hal yang tidak akan pernah gue lupain seumur hidup.
Gue bahkan sempat meregang nyawa diketinggian 3700an.

See you di part 3 velasss!


Juli 23, 2018

Gunung Kerinci dan Segenggam Mimpi, 3.805 mdpl

by , in

WASAP GESSS!!!

Gimana hari kalian?

Udah siapa aja yang nanya "kapan kelar skripsinya"?
Udah berapa kali ditanya "kapan nikahnya"?
Berat badan masih aman?

Jangan sedih. Kalian tidak sendiri.
*peluk satu-satu*


Anyway...
Kumau bercerita nih.
Semoga apa yang diceritakan ini bisa kalian ambil hikmahnya. Yang buruknya jangan diambil.
*HALAH

Percaya atau ga percaya biarlah semuanya kembali ke Yang Di Atas. *mengheningkan cipta*


BEGINI CERITANYA KAK!

Abis keseruan di Gunung Marapi, kaki ini gatal rasanya pengen mencicipi ketinggian lainnya. Dan hati memilih gunung berapi tertinggi se-Asia Tenggara atau yang biasa disebut "Atap Sumatera", Gunung Kerinci. Ini sebenernya pertaruhan nekat. Kenapa? Karena untuk yang newbie naik gunung, jalur Kerinci bisa dikatakan cukup ekstrim. Tapi kalian pasti taulah yakan kalau wanita sudah berkehendak, siapa yang berani bilang enggak :))

Gunung Kerinci, 3.805 mdpl
Gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara

Awalnya perjalanan ini direncanakan di hari Lebaran ke 4. Namun mempertimbangkan temen-temen lainnya yang masih sibuk bersilahturahmi dengan sanak saudaranya maka diputuskanlah tanggal untuk ke Kerinci yakni 28 Juni 2018.

--------

HARI PERTAMA - 28 Juni 2018

Rejeki anak baik nih.
Kami dapet kursi paling depan dong wkwk
Seumur-umur naik pesawat ga pernah duduk hadep-hadepan ama pramugari :))


Gue dan sahabat, kami cuma berdua, berangkat dari Batam ke Padang menggunakan pesawat (YAIYALAH PESAWAT MASA BALING-BALING BAMBU). Kita berdua sampai di Bandara Padang kira-kira jam 11an dan langsung dijemput sama dua cowo ganteng nan baik hati (harus dipuji kalau engga ntar ngambek, biasa cowok jaman now) menggunakan pick up. Pendakian kali ini sudah kami rencanakan dari jauh hari dan ada 18 orang yang ikut. Kami akan menggunakan dua mobil, karena ada 6 perempuan yang ikut, maka semua perempuan akan naik di xenia dan tim laki-laki akan naik pick up bersama carrier sejuta umat wkwkw. 

Sebenarnya dari jauh-jauh hari kami sudah mengingatkan kepada temen-temen yang di Padang untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang mulai dari anggota yang ikut serta, kendaraan yang dipakai, sampai waktu keberangkatan biar ga molor dan kami bisa ngejar pesawat pulang namanya juga fakir cuti yakan. Tapi ada aja yang buat waktu jadi ngaret. Menunggu si anulah, beli inilah, nunggu si itulah, beli anu lagi, tunggu lagi, banyak deh ceritanya sampai pada akhirnya kami berangkat jam 4 sore pffttt.

Gak semua yang ikut di pendakian ini adalah orang yang gue kenal. Beberapa justru baru kenal di sini alias temennya si temen. Jadi belum teruji juga kredibilitas kekeluargaannya, beda sama Marapi Squadkuh. Sore itu keberangkatan kami diwarnai hujan rintik-rintik dan perjalanan panjang pun dimulai.

Perjalanan dari Padang ke Kerinci membutuhkan waktu sekitar 8 jam melewati Solok. Sungguh buat pinggang dan pantat sakit, untung aja nih di sepanjang jalan pemandangannya elok nian jadi perjalanan panjang itu gak terlalu menyakitkan.

Sedikit cuplikan keindahan perjalanan ke Kerinci yang gue rekam karena bosen tidur mulu di mobil


Semakin dekat ke Kerinci suhu udarapun semakin dingin apalagi hujan gak berhenti mengiringi perjalanan kami. Kami memutuskan untuk menginap di basecamp pendaki di kaki gunung Kerinci dan sampai di sana saat hampir tengah malam. Kondisi basecamp saat kami sampai sudah cukup penuh. Tapi daripada kurang istirahat padahal besoknya harus mulai mendaki, kami memutuskan untuk tidur apa adanya. Cewek-cewek mengambil posisi bersempit-sempitan dengan orang-orang yang sudah lebih dulu tidur, sedangkan laki-laki semuanya tidur di dalam pick up wkwk :))

Basecamp di kaki gunung Kerinci

HARI KE 2 - 29 Juni 2018

Jam empat pagi gue bangun. Lumayan nyenyak tidurnya dan stamina gue mulai kembali. Pas bangun gue kaget, sebelah kiri gue cowok, sebelah kanan kaki orang. IYA KAKI! Yang untungnya adalah kakinya sahabat gue yang dari Batam itu. Coba kalo kaki orang gak gue kenal pengen gue ajak ngomong baik-baik ga tuh :))

Entah karena tidur yang terlalu nyenyak sebelumnya, gue jadi gak bisa tidur lagi. Liat kiri-kanan semua orang pada asik tidur. Suara ngorok yang bersahut-sahutan sungguhlah mewarnai subuh gue kala itu. Main hape, bosen. Tidur lagi, gak bisa. Akhirnya gue memutuskan keluar. Gelap. YAIYALAH GELAP BARU JAM EMPAT SUBUH -_-
Gue duduk, bengong. 
Puas bengong, gue samperin pick-up temen-temen. Yang ternyata merekapun sedang paduan suara di dalam sana wkwkw.
Gunung Kerinci tepat ada di depan gue. Walau gelap, kegagahannya tidak tersembunyi oleh kabut subuh itu. Cuaca juga dingin banget. Gak lama gue duduk di luar, datenglah 2 mobil yang isinya cowo semua. Akhirnya kita ngobrol ngalor ngidul, mereka dari pekanbaru  by the way. Lumayan untuk menghabiskan waktu.

Waktu terus beranjak dan matahari akhirnya malu-malu menunjukkan sinarnya di sebelah timur sana. Satu per satu temen gue bangun dan kita semua terpana dengan Kerinci. Basecamp itu kekurangan air banget. Jadi buat buang air atau sekedar membersihkan diri kita lebih memilih ke mesjid di deket basecamp.

Di kaki gunung, masih pake celana jeans :))

Semakin terang kita memutuskan untuk bersiap-siap. Mengganti baju dan melakukan packing ulang. Sebelum memulai pendakian kami juga sarapan bersama terlebih dahulu. Langit biru dan putihnya awan mengantarkan pendakian kami ke Gunung Kerinci.

Pose dulu nih :3
Langitnya biru banget kan

Masih bersih dong gue :))

awannya :3

Sebelum pendakian, semua pendaki wajib untuk melaporkan tim dan membayar uang simaksi di kaki Gunung Kerinci. Uang simaksinya sendiri cukup murah, hanya Rp 7.500 / orang. Tidak lupa kita semua berdoa agar perjalanan ini dilancarkan dan kami semua selamat pergi serta pulangnya.



KAKIPUN MULAI MELANGKAH...


Perjalanan dimulai dari sini

Pendakian dimulai jam 10an dan langsung disambut dengan jalur kebun teh. Cukup landai. Kami masih bisa bersenda gurau sepanjang perjalanan. Belajar dari perjalanan Gunung Marapi kemarin, gue bertekad untuk terus membawa carrier sendiri. Selain untuk tidak menyusahkan teman-teman lainnya, gue juga harus mulai bertanggung jawab atas barang bawaan pribadi sendiri, terus biar ga manja aja sih tasnya buat gaya-gayaan doang.

Tim Kerinci

PINTU RIMBA

Tidak sampai 30 menit kami tiba di sini. Sesampainya di sini kami menarik nafas sebentar. Punggung mulai berat. Jadi gini yah rasanya bawa tas isi 60 liter yang kemarin pas di bandara gue timbang sekitar 10 kg. Berat kakkkkkkk! Kami tidak berhenti lama di sini. Perjalanan pun dilanjutkan.

POS 1 - BANGKU PANJANG

Perjalanan dari Pintu Rimba ke Pos 1 mulai diwarnai gerimis manja. Jalur yang dilewati walau masih landai tapi penuh lumpur. Beberapa kali gue terpeleset wkwkw. Tapi ada tangan si dia yang selalu menggapai agar gue ga jatuh eeeaaaakkk! Kurang lebih 1 jam kami berjalan, tibalah kami di Pos 1 - Bangku Panjang. Di sini kami sudah ada di ketinggian 1.890 mdpl. Hujan yang turun semakin deras. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak karena sudah hampir tiba tengah hari. Kami masih bisa tertawa-tawa di sini, saling bercanda dan bersenda gurau dan tentu saja tidak lupa untuk berfoto karena itu adalah wajib hukumnya :))

Foto ini awalnya cuma abang yang pake baju yukensi itu sendirian
Terus kami nimbrung semua dan *CKREEKKKK*

Lumpurnya -_-

POS 2 - BATU LUMUT

Perjalanan menuju Pos 2 mulai sedikit menanjak. Tapi bukan itu masalah utamanya. Karena kami berjalan di bawah hujan, jalur menjadi dua kali lipat lebih berat. Jalanan yang becek membuat kaki semakin sulit melangkah. Beberapa kali sepatu masuk ke dalam kubangan lumpur. Belum lagi banyak pohon tumbang yang mengharuskan kami untuk memanjat. Saat tiba di sini kamipun juga beristirahat sejenak. Salah satu teman yang sudah pernah ke Kerinci mengatakan bahwa selama di pos 1-3 kami tidak boleh beristirahat terlalu lama. Mengapa? Karena ini adalah jalur Harimau Sumatera berlalu-lalang. Pos ini memiliki ketinggian 2.010 mdpl.

*blurrrrrrrrrrrrrrrrr
Pengen marah tapi yaudahlahhhh yang penting ada fotonya :))

Istirahat dulu gaisssssss

POS 3 - PONDOK PANORAMA

Gue mulai kehilangan orientasi waktu. Gak tau udah berapa lama berjalan. Karena fokus sama jalur dan beban di pundak. Hujan masih setia mengiringi langkah kami. Kami tidak lagi berjalan rombongan. Tim terpecah dan menyisakan kami berempat saja di belakang. Jalur mulai semakin terjal. Beberapa kali gue bahkan harus menarik nafas lebih lama karena sesak. Dan akhirnya sampai juga kami di sini menyusul teman-teman kami. Dengan ketinggian 2.225 mdpl dan cuaca yang semakin dingin, tim memutuskan memasak air sejenak untuk menghangatkan badan. Hari semakin sore.

Pos 3 - Pondok Panorama

Tapi tetap terlihat gelap karena awan mendung dan curah air yang tidak berhenti. Dan di sinilah salah satu anggota tim kami terkena hipo. Memang tidak disarankan untuk lama-lama duduk berdiam diri di tengah cuaca seperti ini. Dia hanya duduk diam dan tiba-tiba menggigil. Beberapa cewek lainnya akhirnya memeluknya secara bergantian agar badannya hangat. Kuncinya sih gak boleh panik yah karena semakin panik pasti semakin dingin dan menggigil. Tidak lama kemudian diapun kembali normal, thanks GOD. Kami memutuskan tidak lebih lama beristirahat. Selain karena berbahaya di sore hari, badan juga semakin menggigigil kalau masih berdiam diri. Perjalanan dilanjutkan.

Ikuti terus perjalanan menuju Atap Sumatera, di Bagian Dua