JODOHKU (BUKAN) ORANG NIAS

Baju adat Nias
Holaaaaaa!!!

Judulnya panas banget ga tuh huahaha. Percayalah netizen kepo akan segera klik link blog ini begitu saya publish. Akan banyak orang yang penasaran siapa tuh jodohnya saya. Yang tentu sajalah akan berujung kecewa karena ini bukan cerita saya wooooooooo.

*tutup blog*

*dibanting netizen*

Bhahahahahahahahaha *ketawa setan*

Jadi 2 tahun yang lalu saya pernah nulis tentang KENAPA JODOHKU HARUS ORANG NIAS? 

Like why oh why? Saya nulis ini murni setelah salah satu teman yang sama-sama suku Nias (yang jatuh cinta dengan yang bukan orang Nias) hubungannya terhalang restu. Jadi saya tulis aja tuh opini dan kekesalan hati saya. Terus tulisannya viral dong lol. Viral di orang-orang yang mengalami lebih tepatnya. Banyak banget masuk komentar baik di blog maupun di instagram saya yang berujung curhat colongan. Ya gak jauh-jauh lah kasusnya, ga direstuin sama keluarga si cewe *pukpuk mas mas yang curhat sama saya padahal saya juga gak bisa apa-apa wkwk*.

Dan tulisan ini adalah sesi 2 dari perjuangan cinta teman saya tadi yang akhirnya setelah hampir 6 tahun itu berhasil. Duh aduhlahhhhhh! Happynya gak ngerti lagi waktu saya dengar mereka akan melangsungkan pernikahan setelah melalui jatuh bangun rintangan *tsahhh.

Jalinan cinta yang dimulai sejak bulan Mei 2015 itu gak main-main. Keduanya mati-matian memperjuangan restu untuk mencapai gerbang baru dalam sebuah hubungan. Pernikahan. Mimpi setiap pasangan ya kan? Dan itu juga yang mereka perjuangkan. Saya memang hanya orang luar yang mendengar cerita sedihnya ketika ayah atau keluarga menentang perbedaan suku yang ada diantara mereka berdua. Namun teguhnya hati mereka juga buat hati saya merona. Kalau cinta udah bicara, gunung pun rasanya bisa dipindahkan berdua.

Dan yang namanya perjuangan itu gak pernah sia-sia bunda (yah walau banyak juga sih yang belum berjuang eh udah ninggalin lol.) Segala jerih lelah dan kuat hati mereka, terbayar lunas tanggal 10 Oktober 2020 kemarin. Dengan tetap diwarnai drama karena apalah sebuah pernikahan tanpa drama kan, mereka sekarang resmi adalah sepasang suami-istri.

*mewek sekebon*

Saya belum menikah. Namun ada ditengah keluarga dengan latar belakang adat istiadat kental, membuat saya kembali merefleksikan diri. Jika nanti sudah tiba saatnya untuk saya, apa saya dan pasangan akan punya hati seteguh itu. Jika cobaan yang datang lebih berat, apa saya dan pasangan tidak akan saling meninggalkan. Jika sudah berjuang mati-matian, apa nanti saat pernikahan bisa saling memalingkan badan. Ribuan pertanyaan bertubi-tubi hadir dan mampir di kepala saya.

Tapi saya rasa pertanyaan itu sulit terjawab karena belum ada pasangannya huahahah :))

Jika sudah, pasti gak akan gak akan susah.

Teruntuk kakak yang ceritanya udah bolehin kutulis di blog sampai jadi dua tulisan malah. Makasih yah udah menjadikan ceritanya sebagai motivasi untuk saya yang di masa depan mungkin juga akan melalui perjuangan serta perjalanan panjang. Cerita kakak dan suami menambah daftar panjang bahwa perjuangan dan tulusnya cinta itu gak akan pernah kalah sama apapun. Perjuangan kakak dan suami mengajarkan juga bahwa yang memang sudah ditentukan untuk kita, akan tetap menjadi milih kita. Bahagia terus sama suami. Siapa bilang jodoh kita harus orang Nias, gak tuh :p

HAPPY WEDDING KAKAKKU DAN SUAMI :3


PS: Please yang bernasib sama jangan curhat lagi ke saya karena daripada curhat mending kalian nabung uang jujuran dari sekarang :))



Love,


-ameliasepta


1 komentar

  1. perjuangan dan tulusnya cinta itu gak akan pernah kalah sama apapun 👏👏

    BalasHapus