#30DAYSWRITINGCHALLENGE DAY 6 - SINGLE DAN KEBAHAGIAAN

Dari ketinggian sekian ribu mdpl
kangen naik pesawat huhuu


Gak terasa udah nulis satu hari sekali. Ih pencapaian banget ini buat saya yang males nulis banget dengan alasan gak punya topik :p

Setiap melihat tema apa yang akan saya tulis di setiap harinya saya berdebar sendiri. Karena emang gak pakai konsep apapun dan hanya menuliskan apa-apa yang di dalam kepala. Makanya tuh isi tulisan saya banyakan curhatnya huahaha.

Kemarin kan saya udah sempat yah bahas tentang hal apa yang membuat saya bahagia. Nah ternyata hari ini saya harus menulis lagi tentang unsur unsur bahagia namun lewat kata "sendiri". Sendiri yang gimana nih? Sendirian? Sendiri aje? Sendiri hatinye? Elah betawi banget jadinya wkwk. Yah sekarang kita sama-sama akan belajar korelasi antara memilih sendiri alias single dan kebahagiaan di dalamya.

Netizen belum dipersilahkan komen, nanti dulu. Tunggu dulu.

Zamannya Raditya Dika, jadi single itu ngenes banget. Yah lebih menyedihkan jomblo sih. Single agak lebih terhormat gitu. Soalnya adakan istilah "jomblo itu nasib single itu pilihan". Puk puk jombloooo. Tapi mau jomblo atau single itu kan sebenernya sama yah, sama sama gak punya pacar alias hatinya kosong ga ada isinya. Terus kalau ga ada isi emang bisa bahagia?

BISA BANGET LAH BUNDAAA~

Bisa banget. Kalian bisa bahagia apapun status kalian. Karena saya percaya kesendirian adalah sebuah pilihan. Sejak belajar pacaran *pacaran aja pake belajar huahaha*, saya yah jadi suka pacaran. Karena rasanya seru aja punya orang untuk berbagi cerita dan keluh kesah. Punya temen buat digenggam saat berjalan. Punya seseorang yang bisa dipeluk. Punya bahu untuk menangis. Apalagi saya yang selalu merasa kosong di rumah, punya pacar itu seru dan menyenangkan. Namun tidak semua orang beruntung punya kisah manis ala princess Disney. Tidak semua orang punya happy ending.

Dan dari perjalanannya banyak sekali yang akhirnya memutuskan untuk sendiri saja. 

Saya pernah punya cerita keluar dari hubungan yang sangat berat dan rumit. Pokoknya tuh hubungan buat saya berdarah-darah bertahan entah untuk apa. Hubungan yang menyiksa, tidak sehat, sampai keputusan berat yang harus saya ambil adalah menjadi singel. Hingga sebelum saya kembali menjatuhkan hati, menjadi single adalah ruang yang saya pilih untuk memulihkan diri. Saat itu saya sadar, single itu juga bisa bahagia. Sangat bahagia. 

Saya kembali mengenal diri saya sendiri yang sudah tidak ada lagi orang lain di dalamnya. Hati saya sepenuhnya milik saya. Pikiran saya sepenuhnya adalah tenga diri saya. Tidak ada yang perlu saya khawatirkan karena saya bisa menyentuh, melihat, mempercayai diri saya kembali. 

Saya banyak menemukan orang-orang baru yang kemudian sampai hari ini tetap menjadi teman baik. Mata saya membuka segala peluang dan kesempatan yang ada. Dan yang paling penting petualangan baru yang seru menunggu. Bebas. Lepas. Bahagia.

(Baca juga: Yang membuat saya bahagia)

Lalu apa punya pasangan kemudian tidak bahagia? Tentu saja bahagia. Namun mengecil-ngecilkan orang lain hanya karena mereka sedang tidak punya pasangan adalah keliru. Berdua itu bahagia, namun sendiri juga tidak berarti nelangsa. 

Menjadi single adalah perjalanan mencintai diri sendiri tanpa henti. Dalam perjalanannya akan ditemukan betapa diri kita layak dicintai dan mencintai di hati yang tepat. Entah kapan saat itu tiba, setidaknya kita pernah punya masa yang juga tidak kalah membahagiakan dengan mereka yang punya pasangan.

Karena bahagia tidak melulu tentang berdua muuaaahh!

Tidak ada komentar