SEMESTANYA ARUTALA – “ANAK PERTAMA”KU


Waktu saya lagi scoll timeline twitter, ada satu cuitan dari penulis favorit saya yang mengabarkan bahwa ada sebuah perhelatan #BERKARYADIRUMAHAJA. Inti dari postingan itu adalah salah satu platform novel digital mengadakan sebuah perlombaan menulis novel dan webtoon. Yang membuat saya langsung tertarik tentu saja nominal hadiah yang mencengangkan. Gak cuma angka hadiahnya yang bombastis, jurinya juga buat terpukau. Ada Ibu Suri penulis favoritku sepanjang masa yah kapan lagi coba karya saya bisa dibaca dia huhuu :((



WOW!

FANTASTIS!

KALAU MENANG BISA NIKAH NI GUE  *wow motivasi apa nikah pakai uang menang lomba huahaha*

Karena angka yang tertera di flyer lomba itu, saya segera saja membuka cerita-cerita lama yang pernah saya tulis namun tidak pernah selesai. Saya suka sekali menulis cerita pendek sejak masih menggunakan seragam putih biru. Namun rasa tidak percaya diri membuat seluruh cerita pendek itu hanya berakhir di sebuah buku tulis tersimpan di laci alias tidak pernah dibaca orang lain. Saya takut karya saya tidak diterima atau bahkan dicela. Lebih baik hanya saya sendiri yang menikmatinya, begitu pikir saya dulu.

Puluhan kertas di lembaran buku itu saya bolak-balik. Ceritanya klise dengan permasalahan yang kalau saya baca sendiri sih yah gemesin sekaligus menjijikkan. Saya merasa tulisan-tulisan itu tidak pantas diikutkan lomba.

INSECURE TERUS ELAHHH~

Akhirnya waktu terus berjalan. Keinginan mengikuti lomba lama-kelamaan pudar digantikan kesibukan lainnya. HIngga di bulan Mei, di siang hari bolong, sebuah ide melintas meliar begitu saja dalam kepala. Semuanya saya tuangkan cepat dalam buku catatan (saya memang lebih suka buat storyline di buku pakai pena, lebih afdol gitu rasanya). Mulai dari nama-nama peran, timeline cerita, gambaran dasar konflik dan hal lainnya. Yang mencengangkan hari itu, saya langsung menyelesaikan 4000 kata.

Hari itu saya menatap kursor yang berkedip di layar dengan tertegun. Ini adalah kata terbanyak yang pernah saya tulis dalam satu hari. Bukan hanya banyak, tapi sangat banyak. Ada rasa kagum pada diri sendiri. Keyakinan dan semangat itu muncul lagi. Saya bertekad menyelesaikan keseluruhan cerita yang telah dimulai ini sebelum deadline yang berakhir di tanggal 23 Juli 2020.

Sembari menulis saya teringat sesuatu. Novel tentu saja harus memiliki cover. Dan saya tidak ingin sesuatu yang biasa-biasa saja. Karena isi novel ini sudah ada dalam kepala, saya menggambar sketsa (yang lebih pantas disebut coretan balita huahah) dan mempercayakan desain cover novel pertama saya ke tangan seorang sahabat yang selama ini sering membantu saya mendesain banyak sekali kerjaan lainnya.


Saya menjelaskan secara detail isi cover yang saya inginkan. Kemudian dia meminta waktu sedikit lebih lama untuk mendesainnya agar hasilnya maksimal (katanya). Saya melanjutkan terus menulis, menggoreskan cerita yang ingin saya bagikan kepada semua orang. Hampir dua minggu lamanya saya menunggu desain cover ini jadi. Sungguh saya tidak tenang. Karena karya lainnya sudah banyak yang diupload. Jiwa kompetitif saya menguar, tak sabar. Beberapa kali saya menghubungi sang desainer menanyakan perkembangan cover novel ini. Dia lagi-lagi hanya meminta saya sabar.

Hingga di hari Minggu, saya menerima pesan singkat darinya yang menjelaskan desain yang dikerjakannya ini menjadi lebih lama karena dia menggambar secara manual. Dan ini hasilnya, voila…


Saya tertegun.

Desain ini cantik sekali. Seorang perempuan yang memeluk dunianya sendiri ditemani dengan bulan dan matahari yang selalu ada untuk dirinya. Cantik. Indah. Tidak terasa mata saya berkaca-kaca. Sungguh. Tak berhenti saya mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah mendesain novel ini (WALAU TERNYATA HARGANYA MAHAL SEKALI TOLONG HAHAHA).

Belakangan saya baru tahu, perjalanan menulis novel hingga akhir adalah perjalanan menemukan diri sendiri. Tidak terkira betapa saya ingin menyerah. Ingin berhenti. Ingin mengaku kalah dan (lagi-lagi) membuat satu cerita lagi yang tidak selesai dan tidak bisa dibaca oleh siapapun. Namun ada satu orang yang tidak pernah berhenti menyemangati saya, yang selalu membuat dirinya menjadi editor tidak berbayar. Orang yang selalu setia bertanya “mana kelanjutan episodenya” walau saya menjawabnya dengan kesal.

Dan tepat 3 hari sebelum lomba ditutup.

Semestanya Arutala, resmi selesai.

25.649 kata yang mengantarkan saya pada sebuah perjalanan melawan diri sendiri. Mengalahkan rasa malas dan rasa takut karya saya dibaca banyak orang. Mematikan rasa takut ketika karya saya dilepas ke mata dan hati orang lain. Tahun 2020 mengajarkan saya menjadi berani atas sesuatu yang sudah lama saya cintai.

Menang kalah di perlombaan ini tidak lagi penting buat saya. Karena saya sudah berhasil memenangkan diri saya sendiri setelah 27 tahun lamanya.

Tapi kalau Kwikku mau menangin juga gapapa aku bahagia huehehe :))

Selamat membaca “anak pertama”ku, Semestanya Arutala



7 komentar

  1. Gak salah kok niatannya untuk pakai uang menang lomba buat nikah :)
    Cantik desainnya apalagi digambar manual ya sepenuh hati pastinya untuk mendukung isi cerita yang dibuat. Penasaran jadi pingin baca anak pertamanya semestanya Arutala. Selamat ya udah berhasil melawan diri sendiri

    BalasHapus
  2. Wah, selamat ya, sudah lahiran yang pertama. Covernya bagus banget, kok. Semoga beruntung 😍

    BalasHapus
  3. Waaaaa luar biasa 25ribuan kata lebih. Covernya juga cantiiiiikkkk!!! Semoga sukses ya Mbaaa!

    BalasHapus
  4. Wah mantaps nih Mba..selamat ya sudah berhasil membuktikan aku bisa. Aku kok malah mundur maju mau nulis buku tu jd ga kelar2...

    BalasHapus
  5. Selamat yaa mbak. Akhirnya jadi juga si anak pertamanya. Salut euy sama kegigihannya menulis :) Pengen juga euy bisa menulis sampai jadi buku gini~

    BalasHapus
  6. Kereenz nya kelewat-lewat ini maah..
    Ilustrasinya kece dan menulis buku, tentu tak semudah yang mengkritik.
    Semoga terus berkarya...
    Yang terbaik selaluuu...

    BalasHapus
  7. Semngaaat, proses menulisnya nikmati saja, apalagi ini platform kwikku bagus sih sepertinya dan kalau menang lomba, hadiahnya buat apa pun kan tak masalah. Menulis dengan hati saja pokoknya

    BalasHapus