SUDAHKAH KITA MERDEKA? - 75th

Merdeka

Hari ini tepat 73 tahun Dirgahayu Indonesia.

Saya tidak akan menunjukkan bendera merah-putih di tangan, karena menjadi Indonesia tidak semata-mata tentang bendera.

Percuma kalian kibarkan sang saka, jika tidak ada toleransi antar sesama.

Apa artinya kalian mengucapkan merdeka, jika tidak menunaikan Pancasila.

Lalu apakah saya sudah sempurna?

Tentu saja tidak. Saya masih lalai menjadi sebaik-baiknya manusia. 

Namun setiap hari saya terus belajar untuk menjadi manusia yang berguna.

Setelah lewat 73 tahun, kita tidak perlu menumpahkan darah agar merdeka, kita hanya perlu tidak memulai pertumpahan darah antar sesama saudara.

Setelah 73 tahun kita bisa merasakan kebebasan yang sebenar-benarnya, kita hanya perlu menjaga sebaik-baiknya apa yang kita punya.

Tidak perlu ada bendera.

Tidak perlu ada kata merdeka.

Yang paling penting menjadi bagian dari damainya Indonesia.


17.08.2018

---

Tulisan ini saya tulis di lama Facebook 2 tahun yang lalu. Membaca lagi setiap kata yang saya tuliskan pada tahun itu. Tahun ini, hari ini, baru saja Indonesia genap berusia 75 tahun. Saya terbangun pagi ini karena jerit teriak anak-anak sekitar lingkungan rumah yang berlarian menuju lapangan, tidak sabar melihat pengibaran bendera di sana. Tadi malam ketika pulang ke rumah, saya juga terpana melihat betapa cantiknya lingkungan tempat tinggal saya. Semarak.

Kemerdekaan Indonesia
Suasana kemerdekaan di lingkungan rumah saya

Kemudian saya merenung. Renungan yang berulang terjadi, setiap tahunnya, disetiap tanggal 17. Di kala seluruh penjuru negeri penuh kibaran merah putih. Di seluruh tanah ibu pertiwi penuh hikmat menyanyikan lagu Indonesia. Apakah kita sudah benar-benar merdeka? 

Tahun ini mungkin adalah tahun teraneh yang sedang kita lalui. Kabar-kabar mengejutkan yang memulai awal tahun, kepergian banyak sekali pekerja seni yang dicintai, belum lagi pandemi yang membuat hati gelisah tidak tentu menjalani hari. Ditambah lagi pertikaian tentang perbedaan yang sebenarnya sejak dulu sudah ada yang entah kenapa semakin hari semakin jadi.

Sekali lagi saya bertanya di dalam hati, Apa kita sudah benar-benar merdeka?

Baca juga: Tolong-menolong!

Berdiri di tanah secantik Indonesia, saya jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan. Tanah seindah ini, kebudayaan sekaya ini, kekayaan bumi gunung hingga lautan membuat saya selalu rindu sejauh apapun kaki saya melangkah. Namun di saat yang bersamaan juga saya patah melihat semakin banyak manusia hilang tanpa arah. Hilang akal, hilang belas kasihan, hilang rasa cinta tanah air. Mengedepankan ego dibandingkan kesatuan. Mendahulukan amarah dibandingkan musyawarah mufakat. Menepis prestasi demi sensasi. 

Dunia mungkin memang berubah. Dan sebagai manusia kita dituntut menyesuaikan diri dengan seluruh perubahan yang ada. Namun Indonesia dengan gugusan pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke tidak perlu apa-apa untuk diubah. Biarkan masing-masing berdiri dengan identitas yang ada. Bukankah itu yang selalu kita banggakan kepada dunia? Wajah Indonesia dengan segala perbedaannya.

Doa saya setiap pertambahan usia Indonesia selalu sama.

Merdeka bukan hanya tentang bendera yang berkibar di atas sana.

Merdeka adalah rasa bebas dan bertanggung jawab.

Merdeka ialah tidak takut menunjukkan apa dan siapa jati diri kita sebenarnya.

Merdeka juga tentang menghargai tanpa menyakiti. 

Merdeka adalah kamu dan saya bisa menempuh jalan apapun yang kita kehendaki.

Lalu, tanyakan lagi, apa kita sudah benar-benar merdeka???



-ameliasepta

Tidak ada komentar