My Head Full of Dream

#BUKAINSPIRASI: Karyawan Swasta Melesat Menjadi Pengusaha Ternama

"WIRAUSAHA"

Salah satu mata pelajaran yang saya dapatkan sewaktu masih memakai seragam putih abu-abu. Pelajaran yang membuat mata saya berbinar saat mendengar betapa menyenangkan dan menantang menjadi seorang pengusaha. Saya tanamkan baik-baik dalam relung hati terdalam, suatu saat nanti saya akan menjadi seorang wirausaha. Saya akan mengelola bisnis saya sendiri. Janji seorang remaja.

Waktu berlalu dan ada mimpi yang terlupa di sana. Setelah lulus sekolah saya melanjutkan ke jenjang universitas. Namun karena keterbatasan biaya membuat saya juga harus bekerja. Jadi dimulailah masa-masa perjuangan mendapatkan gelar sambil terus menjadi seorang karyawan swasta. Kadang saya didera perasaan lelah. Lelah bekerja dan pengen nikah aja. Lelah harus bangun pagi, beradu dengan seluruh penduduk kota dalam kemacetan setiap hari, bahkan lelah berkutat dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya.

Sampai suatu hari sekitar tahun 2012, waktu itu kampus saya mengadakan sebuah "Seminar Kewirausahaan" yang menghadirkan salah satu nara sumber bernama Rosnendya Wisnu Wardhana. Melihat kata "wirausaha" di sana, ada sesuatu yang terbangun dalam diri saya. Mungkin sebuah pengingat bahwa dulu sekali saya pernah punya mimpi yang terlupa. Tanpa ragu saya langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti workshop ini.

Rosnendya Wisnu Wardhana. Dilahirkan di Purwokerto tepat pada hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia di tahun 1976. Merintis pekerjaan sebagai seorang broadcaster yang tidak lama kemudian berpindah haluan menjadi seorang perbankan. Sekian lama menghabiskan waktu bekerja dalam sebuah instansi menyadarkan lelaki yang akrab disapa Mas Noe ini, bahwa semakin tinggi jabatannya nanti di tempat dia bekerja maka akan semakin sedikit waktu yang dihabiskan bersama keluarganya.

Wisnu Wardhana
Akhirnya pada awal tahun 2009, Mas Noe mulai merintis usaha kuliner asli Melayu yakni Kue Bingka Bakar. Mengapa makanan khas Melayu? Hal ini didasari dengan alasan yang sangat sederhana, karena istrinya adalah orang Melayu asli. Dan ini membuat Mas Noe memiliki keunggulan, karena tahu resep asli dari kue tersebut.

Lalu apakah Mas Noe langsung berhasil menjadi seorang wirausaha?

Ya enggaklah! Sebelum memulai usaha Kue Bingka Bakar, Mas Noe sudah banyak juga mencoba merintis beberapa usaha lainnya seperti usaha cuci mobil dan motor, cuci helm, bahkan pernah juga membuka sebuah angkringan, yang berakhir dengan rugi alias tutup. Tapi semua itu tidak membuat Mas Noe menyerah untuk menjadi seorang wirausaha. Dan usaha Kue Bingka Bakar ini digelutinya secara serius.

Dengan modal awal Rp 5.000.000 beliau mulai membeli peralatan seperti mixer, cetakan kue, dan bahan baku membuat kue ini. Uang tersebut juga dipakai menyewa konter yang hanya berukuran 2x3 meter di Pasar Mega Legenda Batam. Tidak langsung menjual kue bingka bakar yang menjadi andalannya, Mas Noe justru memulainya dengan aneka jajanan pasar. Dan saat Kue Bingka Bakar ini mulai dipasarkan, kenyataan pahit harus diterimanya karena penjualan kue ini tidak begitu laku.

Karena kebulatan tekad seorang Wisnu Wardhana, dirinya tidak pantang mundur walaupun hasil penjualan belum memperlihatkan hasil yang optimal. Mas Noe mulai mengubah strategi pemasaran. Kue Bingka Bakar dipasarkan secara simultan di semua acara-acara di Batam, mulai dari tingkat kelurahan sampai provinsi. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Seluruh kerja keras dan keuletan membuatnya pada tahun 2010 berhasil memindahkan usaha dari sebuah konter kecil di area pasar ke ruko yang lebih luas.
Outlet Nayadam saat ini
Tidak cukup mendulang keberhasilan sampai di situ, Mas Noe juga menyabet banyak penghargaan mulai dari pemenang terbaik 1 Wirausaha Muda Mandiri Bidang Usaha Boga Mandiri 2010, UMKM Kreatif versi kadin Provinsi Kepulauan Riau, The Best Entrepeneur of The Years 2011 oleh Indonesia Community Center, The Indonesian Small & Medium Business & Entrepeneur Award (ISMBEA) tahun 2012, Juara 2 Young Entrepeneur HIPMI tahun 2012, dan Finalis Nasional Pelopor Pariwisata Halal Kepri di Kementerian Pariwisata tahun 2016 dan segudang prestasi lainnya.



Beberapa penghargaan yang didapatkan Mas Noe
Seluruh cerita dari salah satu wirausaha muda yang berdomisili satu kota dengan saya ini kembali mengalir deras dari memori otak lalu meletupkan inspirasi dan semangat ke seluruh aliran darah saya ketika beberapa hari yang lalu menemani seorang kerabat membeli buah tangan di outlet bertuliskan "Oleh-oleh Khas Melayu, Nayadam".

Nayadam (Naya dan Adam) yang merupakan gabungan dari ke dua nama anak Mas Noe kembali melempar saya ke masa lalu. Motto Mas Noe yang selalu saya ingat ialah nikmati segala prosesnya, terus memiliki pikiran positif, dan jangan lupa untuk berserah kepada Yang Maha Kuasa. Terngiang juga pesan yang disampaikan beliau di penghujung ceritanya kepada kami para anak muda, bahwa yang paling sulit dalam berwirausaha itu bukan tentang berusaha memulai. Tetapi berusaha untuk berubah. Mengubah pola pikir yang sudah mengakar. Mengubah pemahaman tentang bekerja. Mengubah zona nyaman dari bekerja menjadi wirausaha. Mengubah cara pandang dari seorang karyawan menjadi seorang pengusaha.

Saya pandangi beberapa karya yang nantinya ingin saya komersialkan. Yang pelan-pelan akan saya pasarkan. Sesuatu yang dibuat atas kecintaan pada kerajinan tangan. Benar yang Mas Noe katakan di saat itu. Mungkin saya terlalu takut untuk berubah. Saya terlalu takut keluar dari zona nyaman. Tapi itu dulu. Sekarang saya sudah mulai berubah. Walaupun hingga saat ini saya belum bisa mengejar sukses sosok inspirasi pemilik salah satu oleh-oleh khas Batam itu. Tapi tekad saya semakin bulat. Saya akan lebih giat berkarya tanpa jeda. Saya akan giat berusaha sekuat jiwa dan raga.



Siapa tahu suatu hari nanti. cerita sayalah yang mem#bukainspirasi mahasiswa-mahasiswa lainnya.
Siapa tahu suatu saat nanti, nama sayalah yang mengukir prestasi di mana-mana.
Siapa tahu nantinya, sayalah salah satu karyawan swasta yang turut melesat menjadi pengusaha ternama.

Siapa tahu...

14 komentar:

  1. Ngapain usaha mending nikah aja. *ditampar netijen

    BalasHapus
  2. Wah keren, semangat terus Bapaknya semoga berkah.

    BalasHapus
  3. Menginspirasi bgt, semoga sukses terus pak..

    BalasHapus
  4. semoga ku bisa seperti dia ^_^

    BalasHapus
  5. Keraguan yang kak Amelia rasakan untuk mulai merintis jadi usahawan, juga aku alami saat ini.
    Membaca pist ini mulai muncul lagi semangat untuk nantinya memantapkan diri ngga ikut kerja orang terus.
    Inspiratif,kak.

    Kudoakan usaha kak Amelia sukses nantinya

    BalasHapus
  6. Chairul Tanjung pernah berujar kalau mau jadi pengusaha, jangan cengeng dan jangan menyerah. Jadi semangat terus ya.... Jangan lupakan janji sewaktu di putih abu abu. Yang penting yakin aja.

    Tulisan ini sangat menginspirasi lho. Menghipnotis aku untuk jadi pengusaha atau wirausaha juga.

    Btw Nayadam itu dekat kantor aku. Satu barisan... Hahaha

    BalasHapus
  7. Saya pernah coba wirausaha mba, tapi tetep sambil kerja. Buka warung pempek dan nasi bakar. Sebenernya rame, tapi asisten pulang kampung, mau buka sendiri di kampung katanya. cari orang lagi ga ada yg cocok hingga akhirnya fakum sampe sekarang. masih pengen sih kapan-kapan buka lagi. Semoga di mudahkan. Semangat mba, semoga berhasil dengan kerajinan tangannya ya.

    BalasHapus
  8. Semoga cita-cita jadi pengusahanya tercapai ya Mel. Saya percaya kamu bisa.

    BalasHapus
  9. Wah keren ya. Semoga kisah dan pengalamannya bisa menginspirasi yang lain. Aamiin.

    BalasHapus
  10. Inspiratif, semoga semangatnya menular ke saya, amin amin, salam sukses

    BalasHapus
  11. Jangan usaha terus, Kaka, lelah. Nikah aja, diajmin tambah lelah, wkwkwkwkw. *MintaDiantemSandal

    BalasHapus