DEBAR-DEBUR OMBAK BELAKANG PADANG

Tahun baru saja berganti, namun gue sudah bersinggungan dengan alam. Satu lawan satu.
Kepulauan Riau terdiri dari banyak sekali gugusan pulau. Senang dan bangga karena bisa dikelilingi pantai. Dengerin debur ombak tiap sore, OH BISA DONG! Leyeh-leyeh piknik manja sama keluarga tiap weekend, BISA BANGET! Nikah outdoor tema pantai agar supaya kaya orang-orang yurop atuhlah, sungguh bisa banget karena resort yang cakep bertabur kaya kenangan LOL.
Batam sendiri punya banyak “saudara” perpulauan yang bisa dijangkau menggunakan jalur laut yang mungkin akan membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit saja. Belakang Padang salah satunya. Jika kalian adalah pecinta kuliner, mungkin bisa masukkan pulau kecil yang jaraknya teramat sangat dekat dengan Batam ini sebagai destinasi pilihan untuk mencicipi kuliner khas Melayu. Dan gue adalah salah satu dari sekian penduduk Batam yang demi sarapan mi lendir, akan rela menyeberang lautan ke Belakang Padang.

Pelabuhan Sekupang
1 Januari 2020
Riuh gemuruh kembang api sudah habis rianya sejak pukul 3 subuh. Langit kembali gelap menyusul manusia-manusia yang ikut terlelap. Paginya salah seorang sahabat berceletuk “jalan-jalan ke Belakang Padang yuk mumpung pada libur”. Ide yang tiba-tiba itu disambut dengan bahagia oleh gue dan yang lainnya. Lumayan nih bisa makan siang di sana.

Jam setengah satu siang kami serombongan sampai di Pelabuhan Sekupang. Serombongan ini yang artinya sekeluarga temen gue. Tidak lama setelah sampai, kami langsung naik ke boat yang tersedia tanpa menunggu lama. Sebelum naik ke dalam boat, angin sudah mulai bertiup kencang yang mana tentu saja wajar karna sudah dekat waktu Imlek. Lautan juga terlihat pasang. Boat terisi hampir penuh. Ada 4 bayi, 2 anak-anak dan beberapa dewasa termasuk gue di dalamnya.

Boat yang digunakan untuk menyeberang
 
Dan di tengah debur ombak, dada gue ikut berdebar.
Belum lebih dari 5 menit meninggalkan pelabuhan, boat mulai terjang-menerjang melawan ombak yang sangat kuat. Ini bukan perjalanan pertama gue. Tapi gue tidak pernah merasakan ombak yang sebesar ini. Yah emang dasarnya mabok laut, gue udah kliyengan dan berusaha menahan agar tidak muntah di atas kapal.
Lalu 10 menit berlalu dan tiba-tiba…
Suara mesin melunak dan perlahan mati.
Di tengah laut.
Gue pucat.
Satu kapal terdiam.
Namun karena mencoba tetap optimis, kami menunggu bapak pengemudi boat memperbaiki mesinnya sejenak. Posisi duduk gue ke dua dari depan jadi tidak terlalu dengar apa yang bapak itu katakan. Ternyata mesin mengalami masalah (ga ngerti juga gue intinya itu boat gak bisa jalan kenceng).
Kami terombang-ambing di lautan lepas. Di terpa ombak dan arus di kanan kiri. Dekat sekali dengan maut.
Bapak pengemudi berusaha menghubungi teman-temannya yang berada di pelabuhan. Namun entah mengapa bantuan lama sekali datang. Dan asal kalian tahu, tidak ada satupun pelampung di boat itu.
MARI MENGHELA NAPAS DALAM-DALAM.
5 menit.
10 menit.
15 menit.
Tidak juga kunjung tampak bantuan datang. Ombak dan angin semakin liar. Laut dan kami yang ada di atas kapal mungil itu terasa sangat dekat. Gue melihat jauh ke lautan dan merasa gamang. Lalu gue mulai menangis.
Iya, NANGIS! Udah terpikir banyak sekali kemungkinan yang dapat terjadi saat itu. Orang-orang yang di dalam kapal juga mulai panik dan emosi karena tidak tampak bantuan apapun yang datang. Masing-masing menghubungi kerabatnya meminta bala bantuan. Tangis gue makin deras dan teringat salah satu kisah satu keluarga yang kapalnya terbalik dan semuanya tewas (jalur Pinang – Penyengat). Gue udah bener-bener pasrah dan ikhlas. Kalau waktu gue sampai di sini aja, yaudahlah

Saat boat berjalan, kira-kira beginilah tampilannya.
Kiri kanan depan akan ditutup terpal agar tidak terpias air laur
Gue bahkan sempet whatsapp mama dan mengabarkan gue sedang terombang-ambing di lautan. Biar nanti kalau gue kenapa-kenapa dia ga kaget lagi hiksss
Setengah jam lebih ketakutan, penuh air mata (gue sih terutama wkwk), akhirnya bantuan datang. Boat yang kami tumpangi diikat kemudian ditarik ke pelabuhan Belakang Padang.
Detik dimana kaki gue menginjak pelabuhan yang bisa gue lakukan adalah terduduk. Gak bisa bicara karena gemetaran. Mata bengkak abis nangis-nangisan.
BEGINI AMAT TAON BARU GUE??!!!
Niat mau kulineran dan eksplore Belakang Padang bubar jalan karena tenaga dipakai habis buat ketakutan di lautan. Dan di saat bersamaan, ada juga anak yang baru saja meninggal di dekat pantai. Ada-ada aja

Lalu kenapa gue menulis tentang ini?
YA BIAR INGET AJA GITU KENAPA SEKARANG GUE TRAUMA BANGET KALAU HARUS NAIK KAPAL KECIL SEJENIS ITU!

Dan yang paling penting adalah kepada seluruh pengemudi boat jalur Batam – Belakang Padang. Pleaseeeeeeeeeeeee banget pleaseee! Sediakan pelampung untuk penumpang yang kalian bawa. Memang ongkos yang kami bayar hanya Rp 15.000. Tapi apa itu sepadan jika dibandingkan dengan nyawa seorang manusia? Semoga juga Pemkot Batam memperhatikan sekali lagi jalur yang bisa dikatakan tinggi peminatnya ini. Fokus Batam sudah merambah dunia pariwisata kan? Bagaimana jika berikan yang terbaik kepada orang-orang yang datang ke kota tercinta ini hingga akhirnya kenangan baik yang akan mereka ingat.

JADI…
Kalau gue ntar udah berani naik boat lagi, udah ada pelampung yahhh bapak-bapak, abang-abang?
Demi keselamatan nusa dan bangsa :')

Oke ya?


Bonus pict:

Semesta gak jahat-jahat amat kok, gue masih dihadiahkan senja secantik ini saat pulang.
Langsung ketampar.
Udahlah gausah macam-macam sama alam, kita itu kecil.



17 komentar

  1. Duh. Asal jangan terombang ambing kenangan masa lalu ya mbak. Hehehe, pengalaman yang seru sih. Stay safety

    BalasHapus
  2. Penyakit kapal2 di Indonesia nih. Ga tau nth kenapa jaraaaaaang banget nyediaiin pelampung. Dikira semua penumpang bisa berenang kali yaaa -_-. Aku prnh naik speed boat di telaga sarangan,yg dalamnya kalo menurut org lokk 1400 meter. Daaan semua Speedboat ga ada yg nyediain pelampung! Sejak itu tiap kesna aku ogaaah naik speedboatnya lagi

    BalasHapus
  3. Jadi ingat 2thn lalu nyebrang ke pulau juga dan waktu itu bawa bayik, ada balita dan anak2 juga, tiba2 mesin kapalnya mati dan deeeeggg, Tanteku udah merapal ayat aja terus menerus. Dan di boat itu gak ada pelampung juga. Fiyuuuhh.
    Wajib banget emang tiap boat itu punya pelampung, apalagi boat untuk kebutuhan bisnis gini. Safety first gituloohh.

    BalasHapus
  4. Laahhh, bacanya sambil deg-degan banget Mba, meskipun waktu kecil saya sering eh tepatnya pernah naik perahu kecil, tapi sungguh nggak mau lagi naik perahu demikian.

    Soalnya nggak bisa renang euy, dan juga saya mah panikan orangnya :D

    BalasHapus
  5. Mbak strong banget aku kebayang kalau aku diposisi mbak. Deg-degan banget pastinya.

    BalasHapus
  6. wah kalau aku sudah pasti bakal teriak2 terus

    BalasHapus
  7. Kalau ada pelampung, jatuh nya korban bisa di minimalisir. Sedih kalau lihat ini.itu nyawa orang cuma satu bukan kaya kucing punya nyawa sepuluh. Opst mpo ikutan emosi

    BalasHapus
  8. Whuaa pengalaman seru yg mendebarkan ya.. Selalu ada kenangan di tiap traveling ya..

    BalasHapus
  9. Sepakaat mba. Nyediain oelampung wajib banget walaupun sebetulnya sedihnya banyak yang tak sediakan mba. Moga jadi oerhatian pemerintah yaa

    BalasHapus
  10. Innalillahi aku baca nya sambik degdegan finish ga kebayang kalau aku yang disana. Alhamdulillah ya untungnya baik-baik aja.

    BalasHapus
  11. Aku pas di brebes itu aja naik perahu juga kudu make pelampung semua
    emang sih agak gak bisa gaya tapi demi keselamatan. Untung mba Amel alhamdulillah aman ya meski trauma

    BalasHapus
  12. Sama kitaaaa.. Aku justru stuck juga di perjalanan dari Tanjung Uban ke Batam. 10 menitan, ombak kuat. Barang banyak soalnya orang pada mau atau balik liburan. Aku pulak bawa barang sealaihim gambreng krn mau pindahan ke Batam. Tgl 1 Januari 2020 kondisi laut Kepulauan Riau sedang tidak bersahabat. Syukur kau baik2 aja dek.

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah selamat ya mbk. Saya sendiri bersuamikan orang belakang padang. Pernah kejadian serupa yang di alami oleh mbk. Tapi setelahnya ga kapok untuk ke belakang padang lagi. Gimana mau kapok lah wong mertua disana. Jadi ya mau ga mau harus mau. Hehehe

    BalasHapus
  14. Ya Allah, saya bacanya sesak nafas, kebanyang gimana paniknya apalagi sekarang musim angin kencang, sejak peristiwa penyengat kemarin sy baca dan ngga berani naik kapal kecil. yang penting selamat ya mba

    BalasHapus
  15. Semenjak tragedi Tanjungpinang - Penyengat itu pemerintah bagi-bagi pelampung gratis loh Mel. Masyarakat tinggal menjemputnya saja di kantor pemerintah. Mas Nunung aja dibagi gratis berapa puluh pelampung. Sebenarnya kalau kesadaran masyarakat tinggi, mereka juga akan meminta si pembawa boat untuk menyediakan pelampung. Bertanya dulu sebelum berangkat nah kalau gini terus yang punya boat juga mikir gimana cara menyediakan pelampung buat penumpang.

    BalasHapus
  16. kalau weeked nggak kemana mana teruspengen sarapan agak beda pasti kabur ke sini , naik trans asia

    BalasHapus
  17. Sepintar apapun kita bisa berenang, mesti tetap safety ya saat naik pompong ini. Kami kalo ke Belakangpadang, selalu minta life jacket sama tekongnya. Bahkan waktu island hop uah ingatkan sehari sebelumnya.

    BalasHapus